celoteh setengah mati

asap payah berembus dari hidung
pertanda guncangan degup membakar jantung
terpancung pangkal nelangsa tanpa ujung

setengah mati terbirit-birit mendamba damai
dari relung ke relung meniup risau
sementara tenang berkubang di dalam hari

apa yang lebih terang dari hari ini?
apa yang lebih remang dari esok nanti?
tatkala mati tak dimaknai serupa jeruji
mesti yang lalu urung menghantui

September 2021

Ketika Pena dan Otak Sama Tumpulnya

Setiap kali menatap layar untuk menulis sesuatu, alih-alih mulai mengetik, saya seringkali membayangkan banyak hal terlebih dahulu. Ah, saya akan membuka tulisan dengan ciamik, layaknya Dea Anugrah. Lalu, saya akan menjelma Agustinus Wibowo, yang bercerita dengan magis sepanjang tulisan. Lantas, saya akan membuat pembaca berkata, “Gila!” ketika sampai di ujung tulisan saya, sebagaimana orang-orang selepas membaca karya Eka Kurniawan.

Baca selebihnya »

DI PERSIMPANGAN ARUS

di persimpangan arus kau menimbang
antara derap dan senyap
antara melangkah dan menengadah
antara bungkam dan menerjang

di persimpangan arus kau berdiri
menelisik hakikat dalam tumpukan jerami
mendengar pekik mereka yang tercekik
mendengungkan nyanyian-nyanyian perlawanan

di persimpangan arus kau bertahan
dari cengkeraman setan-setan yang mengekang
dari bising nada-nada sumbang
menyala terangkan pikir-pikir remang

 

Agustus 2021

(Dimuat di persmangalam.com)

Letter to My Younger Self

Sejak SMA, saya cukup sering membaca tulisan-tulisan yang ada di situs The Player’s Tribune, sebuah platform bagi para atlet profesional untuk membagikan kisah secara langsung dengan para penggemar olahraga. Waktu itu, saya begitu takjub dengan atlet-atlet yang tidak hanya cemerlang dalam berkompetisi, tetapi juga dalam menuliskan berbagai hal menarik—yang ada di dalam maupun luar lapangan.

Baca selebihnya »

Bahagia yang Terlupa

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

-Seno Gumira Ajidarma-

Chairil bersandar pada pilar masjid seusai melaksanakan salat. Letih badannya bekerja seharian. Duduk di depan komputer sepanjang hari pun juga menghabiskan banyak tenaga, terutama pikiran. Begitulah ia melewati hari-harinya, hampir tujuh hari dalam seminggu, belum lagi ditambah pekerjaan tambahan yang harus dilakukan di luar kantor.

Baca selebihnya »

Persetan dengan Stigma Senja-senji Kopa-kopi Inda-indie, Mari Tetap Berpuisi!

Begitu banyak wadah dalam menuangkan pikiran dan perasaan, tak terkecuali tulisan. Sebagaimana kita ketahui bersama, tulisan pun terdiri dari beragam bentuk dan jenis, salah satunya puisi. Jika kita cek Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi berarti “ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait”. Namun, menurut saya, definisi ini ‘ditantang’ oleh perkembangan zaman dan arus teknologi informasi dewasa ini. Puisi-puisi tak lagi lahir hanya dari mesin ketik dan terbatas pada harmonisnya irama, kepaduan rima, atau rapinya bait. Dalam platform yang begitu beragamnya, karya puisi mengejawantah berbagai bentuk: divisualisasikan dengan gambar, termaktub dalam takarir, teruntai dalam utas cuitan, dan lain sebagainya.

Baca selebihnya »

tanya di setiap pagi

malam berganti pagi, remang bulan digantikan matahari. darah masih mengalir dalam nadi, namun semangat tak berdetak lagi. akankah selamanya begini? akankah semuanya terasa berhenti? kabut selalu menyambut, tapi nyala nyawa telungkup dalam selimut. kepala berputar dalam kemelut, dengan segala risau yang tak kunjung surut. di mana titik terang berada? kapan hadirnya sampai di depan mata? sudah lama jiwa terlena dalam tipu daya, tidur panjang dibuai kenikmatan sementara. sayup terdengar suara pintu diketuk, pada pagi yang tak seharusnya diiringi kantuk. haruskah bangun membukanya? atau cukup dengan menutup telinga?

Juni 2021

RUMAH IV

sudah seratus hari
pijak tanah kami hindari;
menyibak peluang berdiri
sejajar dengan matahari.

nyatanya kami tak
sejengkalpun beranjak
dari mimpi—semerbak
khayal masih terhirup sesak.

kadangkala kami berpikir:
rumah adalah titik nadir,
di mana sunyi beradu getir
dengan nalar yang tersihir.

namun, pada akhirnya,
dari sanalah awal dunia;
tatkala duka dan bahagia
tak jadi hal yang sia-sia.

Mei 2021

PESAN DARI PERPISAHAN PANJANG

dunia adalah lumbung masalah, keluhmu
dan tak semua takdir bersikap ramah.

“yang tenteram hanya genggammu,”
ujarmu tenang alirkan debar.
degup jantungku pernah terpaku
sebagai tempatmu bersandar.

garis hidup tak selalu lurus, kesahmu
dan kita tak pernah tahu arah.

“bagaimana jika semua tak baik-baik saja?”
tanyamu dengungkan gentar.
kecamuk risauku mengemuka
lambat laun jelmakan tegar.

satu-satu  memori melintas, sadarku
dan pedih rindu kembali merekah.

“tetaplah menyemai tenteram,”
pesanmu tancapkan pancang.
dari dingin tempatmu bersemayam
terdengar salam perpisahan panjang

Maret 2021

LAMUNAN KETERASINGAN

Dingin fajar mengurai sunyi
Berlari mengitari jalanan sesak
Di jeram kota bergedung tinggi
Terkurung batin meringkuk terisak

“Apa kabar Bapak di ladang?”
tanya Tuan kepada awan mendung
“Sehatkah Emak sekarang?”
rindunya kian tak terbendung

Kendati rumah mengandung tenang,
Asa terbentang di kota orang
Keterasingan merawi cerita,
Beriring derita dan air mata

“Pak, tawamu kala itu renyah sekali,”
lamun Tuan mengenang perbincangan
“Mak, aku ingin memelukmu sekali lagi,”
bisiknya lirih menafikan kenyataan.

Maret 2021

,

selamat: ialah pupuk
yang dirabuk Abah
dua kali pada denyut
akar Salma Salima.

agaknya pupuk itu mengelat
mujarab, sebab lahirnya
tak hanya selamat;
pun batinnya juga piawai
mengolah hari berat;
dan pikirnya terasah
berderap melesat—
lampaui bilangan
sekat-sekat muslihat.

selamat: ialah sececah
risalah, percik riang
napas panjang
wanita yang
bersahaja.

April 2021