Rumah, Bagian Terakhir

salam kenal, terdengar suara itu melengking
tak ruah, namun mengalirkan darah. dan
ia tak punya telinga, juga jantung—sampai saat itu,
seakan degup demi degup dibunyikannya sendiri:
suara itu berdenging untukku, barangkali.

bebal adalah tumpuan hidup, beberapa kepala
tetap berjalan tanpa punya mata,
beberapa lainnya meletus tanpa sadar sebabnya.
mungkin hari ini akan sama dengan esok hari.
kelak, ia terperosok dalam-dalam, susah
payah menarik diri dari liang sarat duri tajam.

sakit, terdengar suara lagi, kini
setelah ia punya kaki-kaki. ia berjalan
ke sana kemari, di antara yang pasti dan
tak pasti. sekali ia datang, sekali ia pergi,
beriring satu hal yang tak akan berganti:
rasa sakit itu sendiri.

yang membentang, jarak, bukankah
seharusnya seperti ini? ia jadi berpikir
punya ruang menata hati, jauh dari duri
tajam yang bakal mencelakakan diri.
mahir berjalan, ia coba berlari, sampai
sekali waktu kakinya tersandung lubang
dan tak mampu berdiri lagi.

pada menyerah ia menyerahkan diri.
sesekali ia mendongak, dan bertanya-tanya,
tanpa berteriak: kesedihan, mengapa
mati menjadi rumah segala sesuatu
yang tak punya daya?

Juni 2022

Lonceng Keberangkatan

Benar katamu, di lorong ini manusia tersengut
melepas apa-apa yang tak bisa dibawa serta
juga mungkin bersilih sekejap mata

Sementara rumahku telah lama berkabung
atas pulangnya kepulanganku kepadanya
Sebagaimana gelebah kini kubebatkan pada
lentik jari perempuan-perempuan, potret-potret
kesenjangan dan gegap mesin kendaraan

Pun kepada diam aku menyambung kewarasan
perihal rupa-rupa yang menenggak pahit
bak minuman keras pelipur sengsara
perihal anjing-anjing tuli yang sengaja
mengencingi telaga tak bertuan

Dan dalam igauku bersarang duri mimpi
yang tersangkut dari naif kemarin hari
bahwa jagat yang terluka sehari-hari
mesti dihiasi rumbai-rumbai pengusir sepi

Namun segera harapku berkemas pergi
sebab gema lonceng pada tiap sudut
sayup-sayup menyambar pusat nadi,
pertanda kereta saling beradu sampai
pada tangis-tangis yang sarat emosi.

April 2022

Hafalan Harapan

harapan ada pada puncak kemelut perang berkepanjangan
harapan ada pada denting sendok menggeliat dalam cangkir
harapan ada pada dinding menjulang kompleks penjara
harapan ada pada hijau rumput kering di kaki gunung
harapan ada pada endus hidung kucing mungil langganan pukul
harapan ada pada tempias gerimis penghujung azan magrib
harapan ada pada rekaman jenuh kamera pengawas
harapan ada pada aroma anyir cencangan daging
harapan ada pada kelakar membakar suara unjuk rasa
harapan ada pada lipatan kelambu apak melawan matahari
harapan ada pada selebaran penghasut keseragaman berpikir
harapan ada pada berisik musik peredam kokok ayam
harapan ada pada lebam biru menghias sudut kosong pelipis
harapan ada pada jejaring otak penampung darah dari jantung
harapan ada pada gemuruh marah banjir tahunan
harapan ada pada basah kain bekas keringat kerja keras
harapan ada pada
harapan ada …
harapan ada pada harapan.

Februari 2022

Melankolia

dalam gemetar aku gentar.
dalam gentar aku pamrih:
mengharap tuai dari benih
yang kusemai seorang diri.

dalam pejam aku bermimpi
tentang riang hari-hari;
semilir angin yang menjamah
mekar bunga di ceruk hati
—sampai aku terjaga dan
kembali menatap hampa.

dalam temu aku mengadu,
senyap. akan indah bilamana
gamang ini enyah berganti
apa saja yang dapat kita
genggam bersama: tangan,
angan, dan kebahagiaan;
menghadapi saban aral yang
terdengar menakutkan.

(dalam lamun aku masih
gemetar, dengan sadar.)

Januari 2022

Ragu

dengar detakmu teredam ragu
menggeret pilu menghunus sembilu
nanar matamu mengutuk waktu
mengelat sesal sejauh kelu

enyahkanlah jerat yang membelenggu
lepaskanlah bimbang rumpang mimpimu
hempaskanlah resah dan rikuhmu
dan biarkan nyala sembuhkan gundahmu

pagi mungkin kelabu
dan nyawa tak melulu berseru
berkawanlah dengan waktu
asal ragu tak menjelma rugimu

November 2021

(Dimuat di lpmperspektif.com)

celoteh setengah mati

asap payah berembus dari hidung
pertanda guncangan degup membakar jantung
terpancung pangkal nelangsa tanpa ujung

setengah mati terbirit-birit mendamba damai
dari relung ke relung meniup risau
sementara tenang berkubang di dalam hari

apa yang lebih terang dari hari ini?
apa yang lebih remang dari esok nanti?
tatkala mati tak dimaknai serupa jeruji
mesti yang lalu urung menghantui

September 2021

DI PERSIMPANGAN ARUS

di persimpangan arus kau menimbang
antara derap dan senyap
antara melangkah dan menengadah
antara bungkam dan menerjang

di persimpangan arus kau berdiri
menelisik hakikat dalam tumpukan jerami
mendengar pekik mereka yang tercekik
mendengungkan nyanyian-nyanyian perlawanan

di persimpangan arus kau bertahan
dari cengkeraman setan-setan yang mengekang
dari bising nada-nada sumbang
menyala terangkan pikir-pikir remang

 

Agustus 2021

(Dimuat di persmangalam.com)

tanya di setiap pagi

malam berganti pagi, remang bulan digantikan matahari. darah masih mengalir dalam nadi, namun semangat tak berdetak lagi. akankah selamanya begini? akankah semuanya terasa berhenti? kabut selalu menyambut, tapi nyala nyawa telungkup dalam selimut. kepala berputar dalam kemelut, dengan segala risau yang tak kunjung surut. di mana titik terang berada? kapan hadirnya sampai di depan mata? sudah lama jiwa terlena dalam tipu daya, tidur panjang dibuai kenikmatan sementara. sayup terdengar suara pintu diketuk, pada pagi yang tak seharusnya diiringi kantuk. haruskah bangun membukanya? atau cukup dengan menutup telinga?

Juni 2021

RUMAH IV

sudah seratus hari
pijak tanah kami hindari;
menyibak peluang berdiri
sejajar dengan matahari.

nyatanya kami tak
sejengkalpun beranjak
dari mimpi—semerbak
khayal masih terhirup sesak.

kadangkala kami berpikir:
rumah adalah titik nadir,
di mana sunyi beradu getir
dengan nalar yang tersihir.

namun, pada akhirnya,
dari sanalah awal dunia;
tatkala duka dan bahagia
tak jadi hal yang sia-sia.

Mei 2021

PESAN DARI PERPISAHAN PANJANG

dunia adalah lumbung masalah, keluhmu
dan tak semua takdir bersikap ramah.

“yang tenteram hanya genggammu,”
ujarmu tenang alirkan debar.
degup jantungku pernah terpaku
sebagai tempatmu bersandar.

garis hidup tak selalu lurus, kesahmu
dan kita tak pernah tahu arah.

“bagaimana jika semua tak baik-baik saja?”
tanyamu dengungkan gentar.
kecamuk risauku mengemuka
lambat laun jelmakan tegar.

satu-satu  memori melintas, sadarku
dan pedih rindu kembali merekah.

“tetaplah menyemai tenteram,”
pesanmu tancapkan pancang.
dari dingin tempatmu bersemayam
terdengar salam perpisahan panjang

Maret 2021

LAMUNAN KETERASINGAN

Dingin fajar mengurai sunyi
Berlari mengitari jalanan sesak
Di jeram kota bergedung tinggi
Terkurung batin meringkuk terisak

“Apa kabar Bapak di ladang?”
tanya Tuan kepada awan mendung
“Sehatkah Emak sekarang?”
rindunya kian tak terbendung

Kendati rumah mengandung tenang,
Asa terbentang di kota orang
Keterasingan merawi cerita,
Beriring derita dan air mata

“Pak, tawamu kala itu renyah sekali,”
lamun Tuan mengenang perbincangan
“Mak, aku ingin memelukmu sekali lagi,”
bisiknya lirih menafikan kenyataan.

Maret 2021