Yang Berubah dan Tak Berubah (Gunung Arjuno, Jawa Timur)

Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa satu-satunya hal yang tidak berubah dari dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Perubahan pasti terjadi pada apa saja yang dianggap ada, katanya, seperti ruang, manusia, dan lain sebagainya. Pada mulanya, saya meragukan itu semua karena meyakini bahwa diri saya tak akan banyak berubah. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa perubahan-perubahan itu tak terelakkan, membentuk kenyataan yang disebut masa kini.

Baca selebihnya »

Berkawan dengan Hujan (Gunung Kawi, Jawa Timur)

“Tak akan lari gunung dikejar, hilang kabut tampaklah dia.”

Peribahasa populer ini menjadi kata-kata hiburan bagi saya, dan mungkin kawan-kawan yang lain, ketika mengenang pendakian ke Gunung Kawi kali ini. Berangkat di penghujung Oktober 2020, mengadu peruntungan cuaca di musim hujan, nyatanya kami sama sekali tak beruntung. Hujan menjadi teman setia nyaris sepanjang perjalanan.

Baca selebihnya »

Melintas Batas (Gunung Sumbing, Jawa Tengah)

Gunung Sumbing. Mendengar namanya, gunung tersebut selama ini hanya saya ketahui melalui media sosial, blog-blog perjalanan, dan konten-konten lainnya. Rasa-rasanya tidak pernah terlintas pikiran bahwa saya akan menapakkan jejak di sana. Menuntaskan jelajah gunung di sekitaran Malang dan Jawa Timur saja masih begitu jauh dari kata selesai, apalagi mau mendaki melewati batas provinsi.

Baca selebihnya »

Menepi Sejenak (Gunung Penanggungan, Jawa Timur)

Banyak orang berkata, meskipun kita kembali ke tempat yang sama, cerita yang disuguhkan akan tetap berbeda. Saya sepakat dengan perkataan itu. Ini adalah kedua kalinya saya mendaki Gunung Penanggungan, setelah Desember 2017 silam. Juga merupakan pendakian pertama di tahun 2019, setelah terakhir kali menapaki Semeru di pertengahan 2018. Singkatnya, sudah cukup lama saya rindu naik gunung.

Baca selebihnya »

Nekat dan Tekad (Gunung Penanggungan, Jawa Timur)

Nekat dan tekad. Dua kata ini saya rasa cocok untuk menggambarkan perjalanan saya dan rekan-rekan menuju Gunung Penanggungan. Bagaimana tidak, saya sendiri tidak pernah mendaki saat musim hujan. Ditambah, orang tua belum tentu mengizinkan. Tapi karena bertekad menambah pengalaman, sekaligus mengisi waktu kosong liburan yang banyak dihabiskan dengan berdiam diri di rumah, saya berkeinginan mendaki Gunung Penanggungan. Selain itu, ajakan terus menerus dari seorang kawan, Fakhri, membuat saya semakin tergerak.

Baca selebihnya »

Tabik, Kawan (Gunung Panderman, Jawa Timur)

Sama sekali tidak ada persiapan dalam pendakian kali ini. Tanggal 14 Oktober malam hari, Andry mengajak saya untuk mendaki Gunung Panderman. Berdua saja. Berhubung kala itu suntuk akan pelajaran serta satu kegiatan kepanitiaan event sekolah, saya langsung mengiyakan. Keesokan harinya, saya meminta izin ke orang tua dan diperbolehkan. Pagi itu juga, sekitar pukul 06.30, saya mengendarai motor menuju Kota Batu.

Baca selebihnya »

Melawan Keraguan (Gunung Welirang, Jawa Timur)

Pendakian kali ini direncanakan dengan lebih matang daripada pendakian sebelumnya. Dari segi waktu, saya dan kawan-kawan memilih hari sekitar satu minggu setelah Idul Fitri, yang kala itu jatuh pada akhir Juni. Waktu ini cukup luang, meskipun juga mendekati tahun ajaran baru yang akan berlangsung beberapa hari kemudian. Dari segi peralatan, saya sendiri mulai melengkapi barang pribadi, seperti jaket gunung, sarung tangan, dan menyewa sepatu gunung. Terbilang lebih siap dibanding pendakian ke Gunung Buthak sebelumnya, yang hanya mengenakan jaket seadanya serta sepatu kets.

Baca selebihnya »

Titik Nol (Gunung Buthak, Jawa Timur)

Cerita berawal dari penghujung tahun 2016, di kala saya dan seorang kawan, Andry, merasa suntuk dengan rutinitas sekolah. Pada waktu itu kami bersama tiga orang lain memutuskan untuk pergi ke Bromo yang mana saya tak pernah ke sana sebelumnya. Selepas dari Bromo, rasa penasaran kami terhadap ‘gunung’ dan ‘pendakian’ semakin tinggi. Kami pikir, waktu itu, tak lengkap masa SMA jika tak pernah mendaki gunung.

Baca selebihnya »