Usaha Menyalakan Matahari

Sewaktu berselancar di lini masa Instagram yang makin lama makin menjemukan, saya menemukan sebuah kutipan, “Jangan merasa tua. Sesungguhnya senja belum tiba, namun telah kau redupkan sendiri mataharimu.”

Anjing benar, pikir saya.

Saya memang tengah rajin-rajinnya meredupkan matahari, menyumpahi diri sendiri. Menginjak 22 tahun, saya kerap merasa sudah rapuh dan tak lagi bergairah untuk melakukan ini-itu. Seakan berada di tempat yang gelap, saya juga tak yakin punya sisa-sisa benderang matahari selain kata fajar yang memang melekat di nama belakang.

Ini tentu berbanding terbalik dengan memori masa remaja—khususnya SMA—saya yang, meskipun dipenuhi kejadian-kejadian tolol dan urusan-urusan mengenaskan, masih menunjukkan semangat hidup dan kecemasan yang tak berlebihan akan hari depan. Sebab itu pula, saya tetap berupaya merawat ingatan yang tersisa. Beruntung, setidaknya untuk saat ini, masih ada orang-orang dari masa itu yang turut menghidupkan cerita-cerita ajaib tersebut dalam kepala.

Saya dan mereka, kawan-kawan sekelas yang jumlahnya habis dihitung menggunakan jari tangan, masih berlomba-lomba membagikan meme dan lelucon-lelucon sampah di grup obrolan. Sesekali kami nongkrong, dan tetap terpingkal-pingkal ketika membicarakan bagaimana kelas kami (yang hanya punya 1-2 anggota ekstrakurikuler futsal) bertahun-tahun lalu mampu jadi kuda hitam dan meraih medali perak dalam pertandingan antarkelas. Atau mengenang kegoblokan Jeje, kawan kami yang punya tindak tanduk di luar nalar, beserta kebiasaannya membawa termos berisi kopi panas, bantal, karpet besar, dan speaker Harman Kardon kesayangannya untuk digunakan bersantai di bagian belakang ruang kelas saban hari.

Namun, perihal menjadi dewasa adalah obrolan yang tak dapat kami elakkan.

Topik tentang kelulusan studi dan pekerjaan, pencapaian dan ontran-ontran kesuksesan, mulai meluncur dari lidah kami yang masih terbata-bata mengeja masa depan. Seorang kawan bertutur soal bagaimana salah satu kenalan kami sudah punya segudang pengalaman kerja dan menorehkan sederet prestasi gemilang bahkan sebelum lulus kuliah. Kawan lain menimpali dengan kisah orang-orang terdekat yang makin memancarkan pendar keberhasilan. Obrolan itu berputar seperti bumerang, melesat lebih jauh sebelum akhirnya kembali dan menghunjam diri kami sendiri.

Terus terang, biarpun sering mendengar ungkapan bahwa setiap orang memiliki jalan dan waktu masing-masing, pikiran saya tetap dihinggapi beragam tekanan. Padahal tekanan bukanlah sesuatu saya inginkan saat ini. Saya hanya ingin bebas, pergi ke tempat-tempat impian, dan hidup seutuhnya. Tapi, segala rintangan, utamanya yang tak dapat saya perkirakan, tetap misterius dan membuat saya gentar.

Beberapa hal yang sempat saya bayangkan untuk terjadi telah menguap. Sebagian tentu karena kebodohan sendiri. Misalnya, saya baru sadar akan banyak sekali kesempatan seperti beasiswa, magang, kesukarelawanan, dan lain sebagainya ketika telah memasuki semester veteran. Banyak jalan untuk berkembang, dan banyak pula yang saya lewatkan. Meski demikian, saya bukannya cuma berpangku tangan. Saya masih sempat memiliki gelagat bergerak, semisal dengan bekerja paruh waktu dan menjadi pentolan organisasi kemahasiswaan.

Yang menjadi masalah, apa-apa yang menjadi pilihan saya akan selalu berbenturan dengan kenyataan (atau setidaknya yang kita kira demikian). Saya menyukai apa yang saya geluti, tapi tak yakin bisa terus melaju. Sementara dunia terus berkembang, menentukan apa yang termasuk dan tidak termasuk dalam kesuksesan, dan mengabaikan siapa saja yang bimbang. Saya menengok profil LinkedIn rekan-rekan seangkatan dan merasa amat tertinggal. Saya silau dengan keberhasilan orang lain dan terbebani akan narasi kesuksesan yang serba akas, lantas mempertanyakan, apakah saya telah membuang waktu sia-sia?

Pertanyaan itu tidak terjawab, sebagaimana banyak pertanyaan tak jelas lain yang tiba-tiba meletup menjelang tidur. Ada pertanyaan lain yang sejatinya lebih dekat, nyata, dan bisa saya urai pelan-pelan untuk menemukan jawabannya: Apa yang perlu saya lakukan sekarang?

Bayangan yang gelap mulai menjadi remang, tak serta-merta terang. Hal pertama yang muncul sebagai jawaban, tentu saja, ialah menyelesaikan perkuliahan yang sudah meleset dari waktu seharusnya. Andry, sahabat dan salah satu orang yang paling sering saya ajak bertukar pikiran, telah mengenyahkan beban ini dan sedang berancang-ancang menyambut beban berikutnya. Kini giliran saya. Meskipun akhirnya kami tak muncul sebagai tokoh revolusioner dan tetap bakal menjadi sekrup-sekrup kapitalisme, memegang ijazah sarjana adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan, mungkin, orang tua atau pihak-pihak lain yang ikut membentangkan jalan bagi kami untuk menyelisik ilmu pengetahuan.

Hal kedua dan yang mungkin akan berkelindan dengan hal-hal selanjutnya adalah melakukan apa yang saya mau. Ya, urusan ini, di satu sisi, pasti terdengar sama naifnya dengan kelakar-kelakar mengenai pencapaian yang harus direngkuh generasi Z sebelum berusia 30 tahun. Lagi pula, apa-apa yang termasuk dalam ‘apa yang saya mau’ itu pun bersifat acak dan dapat dibongkar pasang, sebut saja keinginan-keinginan semacam menerbitkan novel, menghadiri konser Red Velvet, atau mencapai tujuh puncak gunung tertinggi di Indonesia. Namun, di sisi lain, hanya itu yang benar-benar saya punya.

Tentu saja mentalitas ini bukan favorit motivator optimis ataupun mentor investasi saham yang gemar menjejali visi bahwa segala hal cemerlang dan harta benda perlu sesegera mungkin dimiliki oleh generasi muda seusia saya sampai hari tua, lantas mengambinghitamkan segala kerentanan kami apabila itu tidak terjadi. Maka dari itu, di antara berbagai situasi yang sudah terlebih dahulu mengeroyok kepala kami dan membuat kami merasa kerdil, mengapa saya tidak bersandar pada satu-dua keinginan yang dapat menjadi alasan saya tetap menjalani hidup, bahkan untuk waktu yang lama?

Terus terang, lagi-lagi, usia sekarang tengah menempatkan saya pada ketidaktahuan, tentang mana yang lebih baik antara hidup untuk saat ini atau hidup untuk puluhan tahun lagi. Antara menyesali yang sudah-sudah atau merisaukan yang akan datang. Namun, saya cuma tahu, atau cuma perlu tahu, kalau hari ini bukan saat yang bagus untuk mati—melainkan untuk bangkit dan menyalakan matahari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s