Yang Berubah dan Tak Berubah (Gunung Arjuno, Jawa Timur)

Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa satu-satunya hal yang tidak berubah dari dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Perubahan pasti terjadi pada apa saja yang dianggap ada, katanya, seperti ruang, manusia, dan lain sebagainya. Pada mulanya, saya meragukan itu semua karena meyakini bahwa diri saya tak akan banyak berubah. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa perubahan-perubahan itu tak terelakkan, membentuk kenyataan yang disebut masa kini.

5-6 Juni 2022, saya mendaki Gunung Arjuno bersama kawan-kawan—yang tak berubah, yakni Andry dan Mahmudi. Mulanya kami hendak berangkat berlima, bersama dua teman sekampus Mahmudi yang belum saya kenal. Tetapi, sehari sebelum berangkat, mereka bilang tak bisa ikut karena ada agenda lain. Jadilah kami pergi bertiga saja. Berangkat naik sepeda motor masing-masing sambil memanggul tas besar, kami mungkin sedikit mirip Gael Garcia Bernal atau Rodrigo de la Serna saat berlakon di film The Motorcycle Diaries, bedanya kami tak sampai melintasi tumpukan salju atau terjungkal di parit.

Tujuan awal kami tak berbeda dari pendakian ke Welirang lima tahun silam: Basecamp Sumber Brantas, Kota Batu. Kedua gunung tersebut memang berdekatan, dan kami baru menuntaskan salah satunya. Mengidamkan puncak Arjuno sejak SMA, saya sebetulnya berpikir kalau pendakian ini mestinya bisa terlaksana sejak dahulu, tetapi toh keinginan itu tak pernah berdaya di hadapan waktu yang berlalu.

Kami sampai di lokasi dengan selamat meskipun indikator bensin motor saya berkedip sepanjang jalan. Sekilas, basecamp ini tak banyak berubah. Namun, pikiran tersebut buru-buru disanggah pikiran lain di kepala saya: Sekarang tempat ini ramai. Setelahnya, bersambungan: Sekarang ada petugas yang berjaga tetap. Sekarang tak perlu menumpang parkir motor di rumah warga. Sekarang, karena pendaftaran pendakian dilakukan online, tak butuh waktu lama untuk registrasi. Sekarang mobil pick-up sudah berbaris di depan basecamp dan siap mengantarmu menuju pintu rimba. Sekarang kau tak sekuat dulu. Sekarang perutmu buncit. Sekarang…

Saya mungkin jadi agak banyak melamun karena nyaris dua tahun tidak naik gunung. Itu jeda yang tidak sebentar, lebih lagi ingatan saya tak bisa lepas dari apa yang didapat saat terakhir kali mendaki, yakni hujan seharian dan isi ransel yang basah. Sejatinya, pengalaman itu tak sepenuhnya buruk (karena masih bisa ditertawakan), tapi jelas bukan ide bagus untuk merasakannya kembali.

Usai berkemas ulang, kami bergegas naik pick-up menuju pintu rimba, titik awal pendakian. Pak Gimin, petugas yang kami temui di basecamp, berkata bahwa bak kendaraan tersebut muat sampai 6 orang. Kami akhirnya satu tumpangan dengan rombongan asal Surabaya, juga berjumlah tiga orang. Kelak, kami mengetahui bahwa mereka merupakan pegawai swasta yang mengambil jatah cuti sekian hari untuk naik gunung. Kelak, saya jadi berandai-andai apakah saya bisa dan akan seperti mereka kalau nanti sudah bekerja.

Tak sampai lima belas menit, langit yang tadinya cerah mulai remang, diikuti guntur yang sayup-sayup terdengar. Turun dari pick-up, kami bertiga berniat berfoto terlebih dahulu sebelum mulai berjalan. Tetapi, gerimis akhirnya mengguyur dan kami pun mengurungkan niat. Hujan deras malah turun sejurus kemudian, memaksa kami memasuki pintu rimba dengan mengenakan mantel.

Saya membenci hujan karena ia menawan saya dalam ketidakpastian, membuat saya merasa tidak aman. Terlebih di gunung, di mana segala kemungkinan dapat terjadi. Termasuk kemungkinan terburuk. Kalau terus-menerus hujan dan tidak ada tempat berteduh yang aman, saya rasa tak ada pilihan lain kecuali terus berjalan.

Kami akhirnya berjalan pelan-pelan dengan tujuan Lembah Lengkean, tempat mendirikan tenda dan bermalam sebelum summit attack. Terdapat tiga pos yang perlu kami lewati untuk menuju ke sana. Jarak di antara pos-pos tersebut tak sama rata, pun vegetasinya tak menentu. Yang pasti, dan yang mungkin membuat jemu, ialah jalur yang menanjak dan menguras tenaga.

Menjelang Lembah Lengkean. (Dok. Pribadi)

Sesekali hujan berhenti, sehingga kami bisa istirahat dengan tenang sembari makan atau minum atau sekadar meluruskan kaki. Di Pos 3, kami bertemu lagi dengan rombongan asal Surabaya tadi, tengah bersantai dan berbincang dengan rombongan lain dari Sidoarjo, berjumlah tujuh atau delapan orang. Dibanding jumlah rombongan yang turun, yang berkali-kali berpapasan dengan kami sepanjang jalur, tampaknya hanya rombongan-rombongan ini yang naik pada waktu bersamaan.

Enam jam berlalu dengan cuaca yang tidak menentu, kami tiba di Lembah Lengkean pada sore hari, menjelang pukul lima. Lembah Lengkean masih indah, tapi saya kini tak perlu ragu karena sudah banyak penanda bahwa kami tak berada di tempat yang salah. Beberapa tenda sudah berdiri, termasuk milik dua rombongan yang kami temui. Giliran kami mencari tempat berkemah paling tepat di antara tanah yang basah dan tidak begitu rata.

Saya sebetulnya menyimpan harapan untuk berjumpa lagi dengan pemandangan matahari terbenam, seperti lima tahun lalu, lantas mengabadikannya dengan kamera. Apa daya, yang kami jumpai kini hanya langit mendung yang dapat meneteskan air kapan saja. Di baliknya, gemuruh petir perlahan-lahan terdengar kembali. Kelak, setelah turun dan sampai basecamp, saya mendapat kabar bahwa saat itu memang badai. Hujan rata membasahi Batu dan sekitarnya.

Benar saja, tiba-tiba tenda kami sudah digeruduk air hujan, padahal belum lama kami bernaung di dalamnya. Saat hari mulai gelap, petir-petir turut berkelebat di langit, memancarkan cahaya yang membuat tenda oranye kami tampak menyala. Suaranya yang menggelegar terasa begitu dekat dan membuat saya takut. Berharap keadaan lebih baik, saya bermaksud berganti pakaian kering dan bersih agar dapat beristirahat dengan nyaman. Nahas, saat membongkar carrier, ternyata pakaian saya telah basah dan hanya mampu diselamatkan sebagian. Saya terlampau pening untuk banyak berkata-kata.

Kami akhirnya mencoba tidur.

Bagi saya, bagian terbaik dari tidur adalah membunuh waktu, tetapi saat itu amat susah untuk memejamkan mata. Beberapa kali saya mengecek jam tangan, dan jarumnya terasa berpindah lebih lama dari biasanya. Hujan belum mau reda. Semangat saya, mungkin juga kami, sempat redup karena belum siap mengulang skenario terjebak hujan dan tak leluasa melakukan apa-apa.

Beruntung, hujan berhenti setelah beberapa jam menghunjam tenda kami yang mulai rembes akan air. Mahmudi menengok ke luar, langit tak lagi tampak mendung. Andry menawarkan untuk memasak mie instan dan kami berakhir memakan porsi berlipat. Sesekali, kami mengobrol atau mendengarkan lagu dari tenda sebelah yang terdengar cukup keras. Masih ada beberapa jam menuju summit attack, dan kami bersepakat untuk bangun jam 1 pagi.

Makan malam. (Dok. Pribadi)

Summit attack kali ini mungkin menjadi saat kami paling disiplin (atau jika berlebihan, tidak bermalas-malasan) bangun tepat waktu, setelah Semeru beberapa tahun lalu. Kami perlu melakukannya karena jarak normal menuju puncak ialah 4-5 jam, atau bahkan lebih, juga supaya cukup waktu untuk turun ke basecamp sebelum hari gelap. Meskipun baru mulai berjalan sekitar satu jam setelahnya, saya rasa hal ini esensial karena kami perlu beralih dari mode istirahat ke mode bergerak, menyesuaikan diri dengan hawa dini hari, makan secukupnya, atau untuk buang air.

Buang air adalah keputusan yang tepat karena apa yang menemani kami setelahnya ialah udara dingin. Ini tentu tidak ramah buat pencernaan, sebab tahu-tahu perut bisa terasa mulas dan menjadi alasan kami untuk tidak jadi naik. Alasan lainnya bisa saja kami reka, seperti suasana sepi dan tak ada penghuni tenda lain yang ikut naik bersama kami, atau tidur yang belum pulas, atau headlamp saya yang mendadak bertingkah aneh dan tak bisa menyala terang. Tanpa banyak berpikir, kami mulai menyusuri punggungan bukit di balik Lembah Lengkean, menuju puncak Arjuno yang belum terlihat rupanya.

Saya berjalan paling depan, diikuti Andry, lalu Mahmudi di belakang. Nantinya, formasi ini berubah-ubah karena saya tak jarang jadi memperlambat tempo, banyak meminta berhenti, bahkan beberapa kali nyaris disorientasi. Tanda jalur di pohon kadang tak terlihat, dan sekujur kaki yang perlahan basah karena terkena embun rerumputan membuat saya kurang fokus. Beberapa kali tumbuhan berjajar begitu rapat di kanan-kiri, dan kami jadi seperti melewati celah bangunan yang sempit.

Kemudian, kami sampai di Lapangan Kotak, sebuah hamparan rumput yang luas, lantas beristirahat sebentar. Tempat ini tak direkomendasikan bagi pendaki untuk mendirikan tenda, sebab jadi perlintasan binatang di malam hari. Kata petugas basecamp yang kami jumpai selepas turun, tak lucu kalau malam-malam tenda jadi kocar-kacir dan rata karena diseruduk kawanan babi. Untungnya, saat itu tak ada satu pun dari mereka yang repot-repot menyapa kami. (Kecuali Andry.)

Setelah ini, di depan kami, hanya ada jalan menanjak.

Jalur yang meliuk-liuk, licin, dan kadang sekeras batu, kami tapaki tanpa terburu-buru. Tempo ini malah membuat saya berjalan lebih nyaman dan punya daya tahan lebih panjang. Kawan-kawan mengamininya. Meskipun tetap bakal kehabisan tenaga, paling tidak kami tak remuk dengan segera. Langit perlahan terang, beriring kabut tipis yang menyelimuti pandangan mata. Menemani kami yang mengap-mengap menghela napas, matahari mulai terbit di sisi timur, berlawanan dengan arah kami melangkah.

Matahari terbit. (Dok. Pribadi)

Kami mungkin bukan tokoh yang diceritakan Sapardi Djoko Damono dalam puisi Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari, namun matahari sama-sama mengikuti kami di belakang. Tak bertengkar dengan matahari tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang, kami malah menjumpai kabut tipis dan angin kencang.

Keadaan terus begitu selagi kami menapaki tanah liat, naik-turun bukit, dan bergerak di antara batu-batu besar. Kabut datang dan pergi, embusan angin semakin terasa ketika sisi kanan dan kiri jalan yang kami susuri adalah jurang. Satu bukit berhasil dilewati, bersambung pada bukit lain yang tak kalah naik-turunnya. Berpikir bukit di depan adalah puncak, ternyata masih ada satu lagi yang menunggu setelahnya.

Seperti kebanyakan gunung, akhirnya tampak juga bendera merah-putih yang menandai letak puncak. Kami terus mendekat ke atas. Kurang dari lima jam—sekitar jam tujuh pagi, yang ada di hadapan kami saat ini ialah setumpukan batu besar yang tajam, yang tak beraturan, yang seakan-akan dapat berguncang (atau menggelinding) ketika ditiup angin. Konon, hal itulah yang membuat puncak Arjuno bernama Puncak Ogal-agil, yang dalam Bahasa Jawa kurang lebih berarti goyah; bergoyang; tidak seimbang.

Tak ada banyak ruang untuk menapakkan kaki, kecuali dengan memanjat bebatuan ini satu demi satu. Mengingat permukaan yang tak beraturan dan berbatasan langsung dengan jurang, tentu tangan dan kaki kami tak boleh asal meraih dan melompat dan malah menempatkan kami dalam bahaya. Yang demikian akan jauh lebih suram daripada langit mendung dan kabut yang berlalu-lalang di antara kami sekarang.

Meskipun begitu, saya dan kawan-kawan cukup puas dan senang bisa sampai di puncak ini, puncak pertama setelah sekian lama, sehingga kami tak lupa mengabadikannya. Merasa cukup, kami pun bergegas, kembali ke Lembah Lengkean yang jaraknya kurang lebih tiga jam berjalan turun. Kali ini kabut cukup tebal dan enggan berpindah cepat, namun hati saya tak lagi risau. Paling-paling, yang membuat saya mengaduh dan meringis untuk beberapa waktu ke depan adalah tempurung lutut yang terasa hendak lepas dari tempatnya.

Andry dan Mahmudi di Puncak Ogal-agil. (Dok. Pribadi)

Perjalanan turun boleh jadi membosankan, sebab kami ‘hanya’ mengulang lagi apa-apa yang telah kami lewati sebelumnya, dengan susunan terbalik. Tetapi, toh akan selalu ada hal yang jadi pembeda. Hujan sempat kembali turun, misalnya, atau saat akhirnya kami berpapasan dengan beberapa rombongan pendaki yang baru melangkah ke puncak. Ketika ditanya, “Puncak masih jauh, Mas?” tentu saya akan menjawab sebagaimana adanya, tidak memberikan harapan palsu yang malah akan mendorong mereka menuju keputusasaan.

Lembah Lengkean akhirnya tampak ketika kami mulai gontai dan tidak bertenaga. Sekarang menjelang jam 11 siang. Dengan estimasi waktu tiga sampai empat jam untuk turun ke pintu rimba, masih ada beberapa saat untuk kami beristirahat dan berkemas. Langit cerah dan matahari cukup terik, memberikan saya kesempatan untuk menjemur seluruh isi tas dan peralatan yang basah. Andry dan Mahmudi memasak nasi beserta persediaan yang masih ada, sambil sesekali membereskan barang-barang mereka. Mungkin aneh, tapi saya jadi teringat suasana Minggu pagi di rumah tangga yang penghuninya sibuk dengan urusan domestik, meskipun tak ada sosok ibu yang menggebah dan menggebuk kami karena bermalas-malasan.

Usai makan dan membereskan tenda, kami berpamitan kepada rombongan asal Sidoarjo yang sepertinya baru akan menuju Welirang pada sore hari. Sebelumnya, ada dua orang lain—yang saya tak sempat menanyakan dari mana mereka berasal—meminta tolong kepada saya untuk memotret mereka. Mereka ternyata juga baru naik kemarin, dan harus segera turun karena esok hari mesti bekerja. Astaga, pikir saya, berapa banyak lagi orang yang ngotot naik gunung di tengah kesibukan kerja (dan apakah saya bisa dan akan seperti mereka)?

wp-1656082344409

Pertanyaan itu tidak terjawab, sebab yang perlu saya lakukan kini ialah melalui perjalanan turun yang membosankan. Jalan yang licin dan berlumpur beberapa kali mengentakkan kami hingga terpeleset. Pohon-pohon rindang, juga kabut yang perlahan kembali datang, menemani langkah kaki-kaki kami yang mulai kram.

Jam menunjukkan pukul lima sore ketika kami akhirnya kembali lagi ke pintu rimba. Ini waktu yang tepat, sebab hari belum malam dan mobil pick-up masih menanti kami agar dapat kembali ke basecamp dengan utuh dan sehat sentosa. Lebih dari ini, atau di atas waktu magrib, kendaraan penyelamat itu tak lagi menunggu di tempat. Kami mungkin harus bertaruh dengan sinyal ponsel yang timbul-tenggelam, dengan ketersediaan dan kesediaan sopir pick-up, dengan udara dan cahaya malam yang dingin dan gelap. Kalau sedang tak mujur, masih ada kemungkinan terburuk, dan saya lebih baik berguling-guling daripada melakukannya: Jalan kaki sampai basecamp.

Masih ditemani kabut, kendaraan kami menuruni perkebunan sayur, kedai-kedai yang berdiri di dekatnya, rumah warga, hingga jalan raya yang lengang sampai ke basecamp. Banyak hal berubah, dan sepertinya akan terus demikian. Di atas bak pick-up, saya sempat agak melankolis sewaktu menyadari bahwa pendakian ini akhirnya terealisasi; seakan jadi kebahagiaan kecil di antara banyak hal lain yang bergantian mengisi kepala saya.

Dalam lamunan sewaktu mengendarai motor menuju rumah, pikiran saya kembali ke lima atau enam tahun silam, saat belum lama mendaki gunung. Dahulu, saya pikir pendakian adalah sebuah kompetisi, sehingga saya jadi banyak merenung dan berkelakar soal seberapa tinggi, seberapa banyak, atau seberapa cepat kita sampai ke puncaknya. Saya jadi terbebani akan sebuah pembuktian, namun entah kepada apa atau siapa.

Yang tidak berubah tentu keberadaan gunung yang tinggi, yang angkuh, yang misterius itu sendiri. Namun, alih-alih berpikir bahwa mendaki gunung adalah sebuah pembuktian, saya bisa menganggap itu semua sebagai pembebasan. Saya mungkin tak semenderita Yeom Chang-Hee di serial televisi My Liberation Notes, tetapi saya merasa kami sama-sama berhak menjalani hidup dengan lebih baik—serta bisa merayakannya tanpa beban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s