Rumah, Bagian Terakhir

salam kenal, terdengar suara itu melengking
tak ruah, namun mengalirkan darah. dan
ia tak punya telinga, juga jantung—sampai saat itu,
seakan degup demi degup dibunyikannya sendiri:
suara itu berdenging untukku, barangkali.

bebal adalah tumpuan hidup, beberapa kepala
tetap berjalan tanpa punya mata,
beberapa lainnya meletus tanpa sadar sebabnya.
mungkin hari ini akan sama dengan esok hari.
kelak, ia terperosok dalam-dalam, susah
payah menarik diri dari liang sarat duri tajam.

sakit, terdengar suara lagi, kini
setelah ia punya kaki-kaki. ia berjalan
ke sana kemari, di antara yang pasti dan
tak pasti. sekali ia datang, sekali ia pergi,
beriring satu hal yang tak akan berganti:
rasa sakit itu sendiri.

yang membentang, jarak, bukankah
seharusnya seperti ini? ia jadi berpikir
punya ruang menata hati, jauh dari duri
tajam yang bakal mencelakakan diri.
mahir berjalan, ia coba berlari, sampai
sekali waktu kakinya tersandung lubang
dan tak mampu berdiri lagi.

pada menyerah ia menyerahkan diri.
sesekali ia mendongak, dan bertanya-tanya,
tanpa berteriak: kesedihan, mengapa
mati menjadi rumah segala sesuatu
yang tak punya daya?

Juni 2022

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s