Yang Berubah dan Tak Berubah (Gunung Arjuno, Jawa Timur)

Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa satu-satunya hal yang tidak berubah dari dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Perubahan pasti terjadi pada apa saja yang dianggap ada, katanya, seperti ruang, manusia, dan lain sebagainya. Pada mulanya, saya meragukan itu semua karena meyakini bahwa diri saya tak akan banyak berubah. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa perubahan-perubahan itu tak terelakkan, membentuk kenyataan yang disebut masa kini.

Baca selebihnya »

Rumah, Bagian Terakhir

salam kenal, terdengar suara itu melengking
tak ruah, namun mengalirkan darah. dan
ia tak punya telinga, juga jantung—sampai saat itu,
seakan degup demi degup dibunyikannya sendiri:
suara itu berdenging untukku, barangkali.

bebal adalah tumpuan hidup, beberapa kepala
tetap berjalan tanpa punya mata,
beberapa lainnya meletus tanpa sadar sebabnya.
mungkin hari ini akan sama dengan esok hari.
kelak, ia terperosok dalam-dalam, susah
payah menarik diri dari liang sarat duri tajam.

sakit, terdengar suara lagi, kini
setelah ia punya kaki-kaki. ia berjalan
ke sana kemari, di antara yang pasti dan
tak pasti. sekali ia datang, sekali ia pergi,
beriring satu hal yang tak akan berganti:
rasa sakit itu sendiri.

yang membentang, jarak, bukankah
seharusnya seperti ini? ia jadi berpikir
punya ruang menata hati, jauh dari duri
tajam yang bakal mencelakakan diri.
mahir berjalan, ia coba berlari, sampai
sekali waktu kakinya tersandung lubang
dan tak mampu berdiri lagi.

pada menyerah ia menyerahkan diri.
sesekali ia mendongak, dan bertanya-tanya,
tanpa berteriak: kesedihan, mengapa
mati menjadi rumah segala sesuatu
yang tak punya daya?

Juni 2022