Mengolok-olok dan Mendambakan Jakarta

Lahir, besar, dan masih tinggal di kota kecil hingga detik ini, membuat kami punya bayangan sendiri tentang kota-kota besar.

Saat tengah cangkruk beberapa malam lalu, sahabat saya, Andry, tiba-tiba berkata ingin segera lulus kuliah dan meninggalkan Malang. Saya tak terkejut karena kami berkali-kali membicarakan hal yang sama. Dalam benak yang gamam, saya juga menyimpan keinginan serupa. Malang, bagi kami yang berusia tanggung saat ini, seakan jadi lagu yang diputar on repeat dan perlahan membuat kami mati kebosanan.

Kami membayangkan kota-kota besar, seperti Jakarta, sebagai belantara ganas yang patut ditaklukkan. Gedung-gedung tinggi. Jalan besar dengan lajur berlipat. Transportasi umum yang bisa diandalkan. Gemerlap lampu trotoar. Hal-hal yang tak banyak kami miliki di tempat kami tinggal sekarang; yang tampak menjanjikan mewah di satu sisi dan sengsara di sisi yang lain. Hal-hal yang sejatinya tak menjulang begitu tinggi untuk digapai, namun juga tak bisa dijangkau begitu saja.

Karena hanya pernah bersinggungan dengan Jakarta dalam satu-dua kali kesempatan, satu untuk numpang lewat dan satu lagi untuk menjumpai kerabat, saya lebih banyak belajar mengenal Jakarta dari cerita-cerita yang melintas di telinga. Favorit saya adalah lagu-lagu Iwan Fals. Dari sana, saya belajar mengolok-olok Jakarta yang pincang, bising, dan kejam. Tinggal di Jakarta, pikir saya waktu itu, akan persis dengan yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma: menjalani “kehidupan seperti mesin”. Ditambah kisah dari beberapa kawan dan sanak saudara, saya jadi makin gencar bertanya. Dari sekian banyak, mengapa orang-orang mendambakan hidupnya disambung di tempat yang terdengar seperti neraka?

Lahir, besar, dan masih tinggal di kota kecil hingga detik ini, membuat kami punya bayangan sendiri tentang kota-kota besar.

Belakangan, saya baru menyadari satu hal: kota besar telah menjadi simbolisme harapan yang besar pula.

Asa akan nasib yang lebih baik, sebagaimana mimpi-mimpi kecil yang lazim dimiliki oleh siapa saja, melekat pada tujuan yang berwujud ruang. Bagi mereka yang cukup beruntung untuk bisa mempunyai pilihan, mengejar asa boleh jadi pijar kecil yang mengentaskan kabut buram di kepala. Ia memperjelas apa-apa saja yang dianggap mendefinisikan nasib yang lebih baik: gaji dua digit, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan personal, masa depan yang tenteram; lantas memacu diri agar mengerahkan segala upaya untuk meraih seluruhnya.

Sementara bagi mereka yang tak datang musabab suatu pilihan, atau bahkan yang tak punya pilihan sama sekali, kota besar boleh jadi harapan yang lain. Ia bisa membujuk jantung untuk berdetak jutaan kali lebih banyak lagi, lantaran tak ada tempat lain yang cukup aman untuk menjamin hal itu terjadi. Ia bisa jadi destinasi pelarian, tempat perlindungan sementara, atau garis finis, yang pada akhirnya bermuara pada kehidupan yang lebih layak dijalani.

Masalahnya, Jakarta dan kota-kota besar lainnya bukanlah utopia. Ia bukan kampung halaman yang kerap dinarasikan siaga memeluk erat siapa saja yang datang dan hendak bahagia berlama-lama di dalamnya. Jakarta, dalam bayangan saya, lebih mirip kereta sesak yang penuh oleh orang-orang yang saling sikut demi mendapatkan tempat atau sekadar bernapas. Suatu saat kereta itu terguling atau berhenti mendadak, yang bisa melanjutkan perjalanan hanyalah mereka yang selamat (dan yang punya privilese lebih untuk tetap selamat).

Tetapi, jauh dari problematika tersebut juga tidak serta-merta membuat kami berada pada posisi paling sempurna.

Lahir, besar, dan masih tinggal di kota kecil hingga detik ini, membuat kami punya bayangan sendiri tentang kota-kota besar.

Saya kemudian menyadari satu hal lagi: kota besar erat berkaitan erat dengan perjalanan.

Selain melakukan perjalanan itu sendiri, saya dan Andry juga gemar menyimak kisah-kisah perjalanan. Sekali waktu, dengan otak yang tak begitu encer, kami mempertanyakan sebuah perkataan dalam suatu buku: bahwa tak ada tempat bernaung yang lebih baik daripada rumah sendiri.

Mestinya kami terlebih dahulu menyadari kenyataan bahwa pemahaman itu terbentuk usai perjalanan menuju berbagai tempat, tak terkecuali kota-kota besar, dalam waktu yang juga tidak sebentar. Kami mungkin tak akan pernah paham seberapa teruk Jakarta tanpa pernah babak belur di dalamnya. Kami mungkin kesulitan menghargai kehangatan rumah tanpa tahu bagaimana Jakarta, atau di mana pun kami singgah nanti, dapat terasa begitu dingin. Yang jelas, dengan kesadaran penuh bahwa problematika tersebut akan selalu ada, kami berencana untuk tetap selamat.

Lahir, besar, dan masih tinggal di kota kecil hingga detik ini, membuat kami punya bayangan sendiri tentang kota-kota besar.

Saat tengah cangkruk beberapa malam lalu, sahabat saya, Andry, tiba-tiba berkata ingin segera lulus kuliah dan meninggalkan Malang. Saya tak terkejut karena kami berkali-kali membicarakan hal yang sama. Dalam benak yang gamam, saya juga menyimpan keinginan serupa. Jakarta, bagi kami yang berusia tanggung saat ini, seakan jadi lagu yang dinantikan dari playlist acak yang mungkin bisa menyelamatkan kami dari mati kebosanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s