“Ibu, jangan pergi ke mana pun”

[Spoiler alert: Twenty-Five Twenty-One]

Memahami orang tua mungkin merupakan pekerjaan paling membingungkan bagi seorang anak. Kau berusaha mengerti, tapi kau jauh lebih ingin dimengerti. Kau sadar mereka telah banyak menderita, tapi bukankah hatimu diam-diam juga menyimpan banyak luka kecil?

Demi menyambung hidup dan membereskan urusan-urusan lain, kau (dan orang tuamu) lebih memilih menimbun luka dan derita itu seadanya. Kau dan orang tuamu mengalihkan segala kepedihan kepada dunia masing-masing, dunia anak dan dunia orang tua, sembari berharap waktu berlalu untuk menyembuhkan segalanya. Di rumah, kau dan orang tuamu masih sesekali berbicara, tentang gunting kuku yang misterius keberadaannya atau apa saja, kecuali perkara yang membuat diri masing-masing sengsara.

Di luar rumah, di dunia anak yang berjarak letak dan pemahaman dengan dunia orang tua, kau masih bisa melakukan segalanya dengan cukup baik. Untuk beberapa hal, orang-orang bahkan menyebutmu sebagai sosok yang paling bisa diandalkan. Tak jarang, orang lain memberimu apresiasi dengan hadiah atau sekadar pelukan hangat—lebih dari yang kau dapatkan di rumah.

Sampai pada suatu malam, kau kembali ke rumah dalam keadaan lelah, sendirian, sementara orang tuamu telah terlelap (juga karena lelah dari dunianya). Dingin sekali, pikirmu, dan perasaan yang tak asing bergejolak lagi dalam hatimu. Sakit. Sakit, sebab apa-apa yang tak kau pahami sebelumnya berujung membuatmu terluka. Sakit, karena perkataan yang saling kau tukar dengan orang tuamu lebih banyak disisipi dengan amarah. Sakit, karena disadari atau tidak, semestinya kehangatan lebih bisa kau rasakan dari tempatmu berada.

Dalam sekejap, air mata telah membasahi pipimu. Kau benci betul dengan situasi ini, meskipun kerap melakukannya tanpa sadar. Kau ingin lari dari rumah saat itu juga, tak peduli hujan turun di luar sana, entah menuju siapa.

tfto2

Apa yang terjadi antara Na Hee-Do (Kim Tae-Ri, Twenty-Five Twenty-One) dan ibunya, rasa-rasanya mirip dengan apa yang kau alami. Mereka, orang tua dan anak itu, pernah saling menabur garam di atas derita yang dimiliki sendiri-sendiri. Mereka pernah merasa sulit memahami satu sama lain, atau bahkan tak pernah berusaha, karena berpikir tidak ada seorang pun yang dapat mengerti perasaan masing-masing.

Sampai pada akhirnya, tiba saat mereka berpelukan, menangis bersama, atas hal-hal yang seharusnya saling ditanggung sedari dulu. Mereka, orang tua dan anak itu, tak lagi mampu membendung luapan derita yang bosan bertumpukan di hati masing-masing. Di depan pusara seorang laki-laki yang amat berharga bagi mereka, keduanya menangis, sejadi-jadinya, menghanyutkan rasa sakit dalam aliran air mata.

Entah kau akan segera paham atau tidak, tampaknya kau perlu menantikan, atau menjemput, saat-saat seperti itu. Saat-saat di mana kau menyadari bahwa semua akan baik-baik saja pada akhirnya, tak peduli seberapa muram perkara yang telah kau (dan orang tuamu) lalui sebelumnya. Nanti, kau (dan orang tuamu) bukannya tidak akan saling menyakiti lagi, bukan, melainkan tetap akan saling menggenggam tangan dan berkata, “Jangan pergi ke mana pun,” di hari-hari paling buruk, setelah belasan atau puluhan tahun sekalipun …

tfto1
“Ibu, jangan pergi ke mana pun. Tetaplah di sisiku.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s