Nyala

nyala terang, terus benderang
yang telah lalu, sirna sudah
nyala terang, terus menerjang
dan cahaya, semakin terang

Lamunan panjang tiba-tiba membawamu menuju peristiwa tujuh atau delapan tahun lalu, ketika kau masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kau, secara acak, memang sering melempar pikiranmu ke satu titik tertentu di belakang, sampai-sampai tertambat pada celah yang mungkin orang lain hanya melintas di atasnya bak retakan trotoar.

“Dunia milik anak muda,” kata seseorang waktu itu. Meskipun lupa bagaimana tepatnya, kau bisa memastikan bahwa dirimu ada di antara ratusan orang, membentuk semacam barisan, dan mendengarkan perkataan tadi dengan daya hidup menyala-nyala. Layar yang kau tatap menampilkan pertunjukan memukau: manuver atlet sepeda BMX di udara, aksi sky diving yang memecahkan rekor, dan beberapa lagi yang tak kau ingat jelas. Seluruh kegemilangan itu dilakukan anak muda.

Kau berdebar bukan main, tapi tak gentar. Biarpun merasa tak punya kemampuan (atau kesempatan) yang mengundang decak kagum seperti pertunjukan-pertunjukan barusan, kau bisa meyakinkan dirimu kalau kau akan mencapai kegemilangan serupa. Ayolah, pikirmu, badan dan otak ini cukup bisa diandalkan. Dunia, seperti kata seseorang tadi, tampak tinggal beberapa langkah lagi untuk berada dalam genggaman anak muda sepertimu.

Hidup kau lanjutkan dengan menjadikan angan kegemilangan itu sebagai pijar dalam kepala. Guru-guru di sekolah, yang sebagian di antaranya menyebalkan, tak henti-hentinya berujar bahwa eksistensimu merupakan harapan besar bagi nusa dan bangsa. (Kelak, kau mengetahui bahwa seluruh siswa di negeri ini juga mendapat perkataan yang sama.) Makin utuh lagi anganmu ketika orang-orang terdekat, sebut saja ibu dan bapak, mengelu-elukan dirimu sebagai bakal figur sukses dunia-akhirat. (Kelak, kau bertanya-tanya apakah itu hanya perasaanmu saja.)

nyala terang, terus benderang
yang telah lalu, sirna sudah
nyala terang, terus menerjang
dan cahaya, semakin terang

Jenjang berganti dan kau masih punya bayangan yang sama. Angan akan kegemilangan belum runtuh biarpun teman-teman sekelas menertawakanmu sejadi-jadinya karena bertanya kepada guru apa arti logaritma secara harfiah, alih-alih mengerjakan latihan soal yang sudah beranjak jauh dari perkara-perkara mendasar. Kau pun masih sanggup menunjukkan wajah datar tatkala harus menempuh remedi ulangan harian, atau ulangan (atau cobaan) lainnya, akibat besaran nilai yang lebih cocok digunakan sebagai penanda ukuran sepatu.

Sampai-sampai situasi yang sama sekali tak menunjukkan kegemilangan itu terus berulang. Bosan demikian, kau jadi cakap mengolah perkara mengkhawatirkan menjadi candaan, secakap mulutmu mengucap kutukan terhadap diri sendiri maupun orang lain maupun keadaan sekitar. Anjing, begitu katamu acap kali bertemu urusan yang menjemukan. Anjing, begitu tanggapanmu terhadap hal-hal yang kau pikir tak bisa kau lakukan. Kau mudah marah dan mudah menyerah.

Mustahil masa itu dapat berlalu tanpa keajaiban dan uluran tangan mereka-mereka yang mulia. Karena mereka-mereka itu pula, kelak kau menyadari bahwa hari-harimu kala itu tak melulu keruh. Kau punya pemahaman baru untuk dibawa bertualang—atau sekadar dimaki-maki dan ditertawakan—di hari-hari selanjutnya.

nyala terang, terus benderang
yang telah lalu, sirna sudah
nyala terang, terus menerjang
dan cahaya, semakin terang

Waktu melesat dan anganmu telah banyak dibongkar-pasang. Kau masih muda, masih, tapi dirimu tak lagi menjadikan kegemilangan sebagai pijar dalam kepala. Kini, saraf-saraf dalam otakmu terlampau pening dibalut kekhawatiran.

Kegemilangan ada di mana-mana, dimiliki anak muda seusiamu, dan kau khawatir.

Kegemilangan tersebar di seluruh tempat, terkecuali di hadapanmu, dan kau khawatir.

Kegemilangan begitu luas artinya, pun muda tak tentu rentangnya, dan kau khawatir.

Kau berharap sesuatu yang lain, mungkin keajaiban, datang menerjang kekhawatiranmu dan menjadi nyala terang atas apa-apa yang semestinya berlalu dan sirna. Kau berharap sesuatu itu menjadi cahaya yang terus benderang memancarkan harapan.

Kau masih hanya berharap.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s