Malang

Bentang ruang yang nyaris setiap hari kususuri ini boleh jadi telah ada sejak Tuhan menciptakan alam semesta, tapi sungguh, sependek umurku, aku telah melihatnya gonta-ganti rupa. Aku melihatnya dari lengang bersahaja, lantas jadi permata tersembunyi yang seakan-akan patut dilirik seluruh mata, hingga kini berjajar ingar bingar dalam lubuknya.

Seringkali aku merasa kota ini adalah cerminan persepsiku terhadap diri sendiri. Aku acap tak mengerti, atau lupa, perihal jalan mana yang harus kulewati untuk mencapai suatu tempat; biarpun telah berkali-kali melakukannya. Aku kerap merasa mengenal seluruh sudut kota ini, namun ternyata yang kumengerti tak lebih dari seujung jari. Aku sering meyakini bahwa kota ini adalah pumpunan kekuatan, yang layak digantungi harapan dengan keras kepala—nyatanya dari sinilah aku banyak menerima rasa sesak di dada.

Malang, seperti namanya, banyak mengajarkanku perihal kemalangan. Seiring bertambahnya usia, pikir luguku mengira hanya akan ada seruak baik belaka. Sampai pada akhirnya, disadari atau tidak, telah mengalir air keruh yang siap meluap kapan saja. Bukankah esok hari selalu tampak mengerikan?

Dengan memutar ingatan baik dari kota ini, termasuk tentang orang-orang di dalamnya, aku bisa saja serta-merta menyingkirkan segala kerisauan—setidaknya untuk sementara. Pernah aku begitu bungah, ketika bersama beberapa kawan berputar-putar sekian kilometer dalam kota hanya untuk tersesat, dan tertawa lagi saat mengulang kebodohan yang sama. Pernah aku tersenyum amat lama, tatkala berbagi tawa dengan seseorang, dalam guyuran gerimis yang seharusnya menyebalkan. Pernah aku merasa begitu bermakna, saat banyak berjibaku melintasi jalan pikiran, di tengah malam yang lebih pantas dilalui dengan mata terpejam.

Tetapi, sekali lagi, semua itu hanya untuk sementara.

Aku akan dengan mudah kembali berpikir bahwa aku benci kota ini. Aku benci jalan, bangunan, atau tempat lain yang pada tiap sudutnya terselip cerita dan peristiwa, yang terlampau sering membuatku merasa kecil dan kecil saja. Aku benci mendengar kisah mereka yang telah melanglang buana, sementara aku di sini hanya berkisah soal letak jalan berlubang yang patut kau hindari agar tak celaka dalam berkendara. Aku benci, terus membenci, sampai menyadari bahwa selama ini dirikulah satu-satunya yang kubenci.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s