Hujan dan Kebencian yang Masih Mengalir Deras

Jika terdapat orang di sekitar Anda yang mengaku begitu mencintai hujan, sesekali ajaklah ia berkemah di hutan. Bilang saja untuk bersenang-senang. Nanti, kalau hujan turun, mungkin kita akan mengetahui seberapa teguh perasaannya. Apakah hujan masih menjadi sesuatu yang ia cintai; usai sekujur badannya kuyup, selepas kakinya terpeleset lumpur licin, atau sesudah mengetahui isi ranselnya porak poranda.

Ada banyak hal yang layak dibenci dengan mudah, tetapi saya tak pernah merasa sekeberatan membenci hujan. Sebab, ketika mengumpat setiap kali hujan turun, teman atau orang di sekitar kerap mengingatkan saya perihal kuasa Tuhan. “Hus, tak pantas bilang begitu,” misalnya.

Meskipun kebencian terhadap sesuatu cenderung bersifat personal, saya tak ingin menjadi senewen sendirian. Bukan tanpa alasan. Sebab, hujan memang kerap turun di saat-saat menyebalkan. Saat merasa langit begitu cerah, hujan bisa turun lewat awan hitam yang bergerak cepat diembus angin. Saat terburu-buru menuju suatu tempat, hujan bisa melengkapi sialnya antrean panjang kendaraan di jalan. Saat seluruh dunia seolah memusuhi kita sepanjang hari, hujan bisa membuat semuanya lebih buruk di sepanjang malam.

Bagi saya, hujan tak pernah lebih menyebalkan dari setahun belakangan. Awalnya, saya tak tahu kenapa. Namun, sepertinya, ekspektasi saya terlampau sering dikacaukan. Boleh jadi, karena terus-menerus mendambakan hari-hari yang benderang, saya luput menyiapkan payung apabila gerimis datang. Ketika tubuh sudah telanjur basah, yang keluar dari mulut hanya kata-kata kutukan. Rasa kesal perlahan merebas, lantas mengalir deras menjadi kebencian yang tak jelas ditujukan ke siapa.

Saking muaknya, ketika mengendarai motor dan tiba-tiba hujan, saya kerap memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan. Apalah arti menepi sejenak, yang cuma sejengkal memisahkan diri dari keniscayaan. Hujan saya biarkan menghunjam, merisak pandangan, seiring kebencian yang juga tak kunjung padam.

Padahal, di masa-masa sebelumnya, saya tak pernah keberatan dengan kedatangan hujan. Sewaktu masih berlatih sepak bola, saya justru akan bahagia jatuh bangun di lapangan—yang lebih mirip sawah akibat genangannya. Sewaktu awal berkendara sepeda motor, saya akan melintasi hujan dengan kepala tegak, menganggap bahwa saya hanya menjadi lebih tangguh apabila mengarungi halang rintang.

Tapi tidak hari ini. Setelah beberapa waktu mengalami gencatan, hujan lagi-lagi membasahi benih kebencian yang nyaris kerontang. Tumbuhnya mungkin menjadi benalu yang mengisap keceriaan. Atau, berubah jadi sesuatu yang menghidupkan, jika sewaktu-waktu keajaiban datang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s