Chairil Anwar dan Soe Hok Gie: Legenda-legenda itu Mati Muda

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

-Soe Hok Gie-

Bagi para penggiat literasi, kedua nama di atas tentu tidak asing didengar. Chairil Anwar, “Si Binatang Jalang” pelopor Angkatan ’45 yang termasyhur karena karya dan pribadinya yang ‘aneh’, kontroversial, namun cukup atraktif untuk dikenang dunia. Lain halnya dengan Soe Hok Gie, pemuda mungil keturunan Tionghoa yang menginspirasi sekaligus menyentil banyak orang. Ia seorang pentolan aktivis mahasiswa, cendekiawan, dan pecinta alam yang namanya abadi dalam pergerakan mahasiswa, maupun di kalangan mereka yang gemar keluar masuk hutan belantara.

Kedua tokoh yang penulis kagumi tersebut sama sekali tidak ada kaitannya, dalam artian tali kekerabatan maupun genre karya. Bahkan, keduanya hidup di zaman yang berbeda. Chairil Anwar lahir pada 26 Juli 1922 dan meninggal pada 28 April 1949. Soe Hok Gie lahir pada 17 Desember 1942 dan meninggal pada tanggal 16 Desember 1969, satu hari sebelum usianya genap 27 tahun. Hal yang sama dari kedua tokoh tersebut adalah mereka mampu menanamkan pengaruh yang besar di masa hidup yang terbilang singkat.

Sekilas Chairil Anwar

Sapardi Djoko Damono dalam kata penutup buku Aku Ini Binatang Jalang (terbitan Gramedia Pustaka Utama) menyatakan bahwasanya Chairil Anwar merepresentasikan ciri seorang seniman: tidak memiliki pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, selalu kekurangan uang, penyakitan, dan tingkah lakunya menjengkelkan. Kehidupan gaya bohemian yang cenderung individualistis ini kadang kontradiktif dengan banyak puisi-pusinya yang berwarna ‘gelap’, gelisah, sekaligus sukar diinterpretasikan: tentang kematian, eksistensialisme, dan penderitaan. Selain itu, Chairil kerap menabrak unsur-unsur kebahasaan dalam sajaknya, bahkan pandangan lain menganggapnya merusak. Namun dari segenap karyanya itulah ia dianggap sebagai penyair pelopor, mengembangkan gaya kepenulisan sajak yang baru berdasarkan dirinya sendiri, paved the way bagi penyair Indonesia setelahnya serta bagi kesusastraan Indonesia pada umumnya.

Chairil Anwar meninggal pada usia 26 tahun, konon disebabkan TBC yang diderita serta komplikasi penyakit yang telah lama diidapnya. Pria yang sajak-sajaknya banyak dipublikasikan di rentang tahun 1942-1949 ini berhasil membuat orang terkesima padanya. Karya-karyanya juga banyak diterjemahkan ke bahasa asing. Dirinya maupun karyanya kerap dijadikan objek studi yang menarik, relevan, dan pesonanya tidak luntur hingga kini. Rasanya tidak berlebihan apabila menyebut Chairil sebagai seorang legenda, yang memberikan pengaruh melampaui batas era. Dan ia mati muda.

Sekilas Soe Hok Gie

Bersama Idhan Lubis, rekannya, Soe Hok Gie meninggal satu hari sebelum usianya genap 27 tahun, akibat menghirup gas beracun dalam perjalanannya turun dari Puncak Mahameru, Gunung Semeru. Tragedi naas tersebut menutup perjalanannya sebagai seorang aktivis, pionir, serta pengabdi yang melegenda pada almamaternya, Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia. Tak hanya di lingkungan kampusnya, namanya juga bergaung di banyak penjuru, sebab tulisannya yang lantang, tajam, dan analitik di harian nasional kerap ditujukan pada pemerintahan kala itu.

Soe Hok Gie merupakan lambang idealisme bagi pemuda yang banyak ditempa arus serta pengaruh pihak luar. Ia hidup dalam masa yang bergejolak: dinamika PKI yang banyak dikaitkan dengan etnis Tionghoa, gerakan mahasiswa dan militer yang tengah gencar, serta zaman peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Dalam kegelisahan, ia berani berjalan sendirian selama jalan tersebut mengarah kepada kebenaran. Dikisahkan dalam biografi tentang dirinya yang berjudul “Soe Hok-gie … Sekali Lagi”, Gie melihat bahwa sejarah tidak bisa dirasionalisasikan dalam hitam-putih saja, namun terdapat bagian abu-abu di tengahnya, mosaik dari warna hitam dan putih. Di sanalah ia berjalan, merangkai kebenaran dan menuliskannya. Tak hanya itu, Gie juga lihai dalam berorganisasi dan bersosialisasi, terbukti dengan posisi Ketua Senat Mahasiswa FS-UI yang pernah dijabatnya, serta turut menjadi bagian awal Mapala UI yang merupakan tempatnya menyalurkan kegemaran mendaki gunung. Dan ia mati muda.

Penutup

Soe Hok Gie dan Chairil Anwar boleh jadi merupakan sosok yang sama sekali berbeda, namun memiliki beberapa kemiripan: mereka adalah pemuda yang selalu gelisah, berani menjadi diri sendiri, serta membawa dampak besar bagi generasi setelahnya. Mereka memiliki kemewahan seorang pemuda sebagaimana ujar Tan Malaka, yang barangkali hari ini mulai banyak luntur: idealisme. Hal ini boleh jadi merupakan warisan sekaligus wejangan untuk para pemuda Indonesia, termasuk penulis, dari Chairil Anwar dan Soe Hok Gie.

Dan mereka mati muda…

Bait terakhir puisi “Derai-Derai Cemara”, Chairil Anwar, 1949

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s