Melampas Ikhlas

Dengung. Lara mengaung.
Teriakkan perih, hadirkan rintih
Dengan renung mengundang kabung
Hanya letih, lupa akan kasih.

Bius engkau yang hampa merangkak!
Sepi menjerat bahkan buat sekarat

Mentak sebab khianat. Atau yang lenyap.
Hadirkan luka yang, tak jua berderap.

Siumanlah, sobat
Rongga tak ada lengan untuk bersulam
Kau punya cinta untuk mengelat,
Tinggal terang lantahkan kelam.

Seperti besi, jiwa juga kudu ditempa
Seperti lidah, ikhlas juga harus dilampas

5 Januari 2019

Iklan

Bingung

Yang menetap mendamba kelana,
Yang merantau mendamba pulang.

Begitulah insan,

Kerap merajuk kala kemelut,
Tanpa sadar akan nikmat yang membalut.

Bukankah, mereka ini sekadar pemeran?

Kendali-Nya tersua di mana-mana,
Sayang manusia lalai menghilang.

Barangkali, nikmat juga, ada di tiap titian

31 Desember 2018

Mengenang Perjalanan #4: Gunung Penanggungan (29-30 Desember 2017), “Nekat dan Tekad”

Nekat dan tekad. Dua kata ini saya rasa cocok untuk menggambarkan perjalanan saya dan rekan-rekan menuju Gunung Penanggungan. Bagaimana tidak, saya sendiri tidak pernah mendaki saat musim hujan. Ditambah, orang tua belum tentu mengizinkan. Tapi karena bertekad menambah pengalaman, sekaligus mengisi waktu kosong liburan yang banyak dihabiskan dengan berdiam diri di rumah, saya berkeinginan mendaki Gunung Penanggungan. Selain itu, ajakan terus menerus dari seorang kawan, Fakhri, membuat saya semakin tergerak.

Baca selebihnya »

Mengenang Perjalanan #3: Gunung Panderman (15 Oktober 2017), “Tabik, Kawan”

Sama sekali tidak ada persiapan dalam pendakian kali ini. Tanggal 14 Oktober malam hari, Andry mengajak saya untuk mendaki Gunung Panderman. Berdua saja. Berhubung kala itu suntuk akan pelajaran serta satu kegiatan kepanitiaan event sekolah, saya langsung mengiyakan. Keesokan harinya, saya meminta izin ke orang tua dan diperbolehkan. Pagi itu juga, sekitar pukul 06.30, saya mengendarai motor menuju Kota Batu.

Baca selebihnya »

Mengenang Perjalanan #2: Gunung Welirang (5-6 Juli 2017), “Melawan Keraguan”

Pendakian kali ini direncanakan dengan lebih matang daripada pendakian sebelumnya. Dari segi waktu, saya dan kawan-kawan memilih hari sekitar satu minggu setelah Idul Fitri, yang kala itu jatuh pada akhir Juni. Waktu ini cukup luang, meskipun juga mendekati tahun ajaran baru yang akan berlangsung beberapa hari kemudian. Dari segi peralatan, saya sendiri mulai melengkapi barang pribadi, seperti jaket gunung, sarung tangan, dan menyewa sepatu gunung. Terbilang lebih siap dibanding pendakian ke Gunung Buthak sebelumnya, yang hanya mengenakan jaket seadanya serta sepatu kets.

Baca selebihnya »

Mengenang Perjalanan #1: Gunung Buthak (11-12 April 2017), “Titik Nol”

Cerita berawal dari penghujung tahun 2016, di kala saya dan seorang kawan, Andry, merasa suntuk dengan rutinitas sekolah. Pada waktu itu kami bersama tiga orang lain memutuskan untuk pergi ke Bromo yang mana saya tak pernah ke sana sebelumnya. Selepas dari Bromo, rasa penasaran kami terhadap ‘gunung’ dan ‘pendakian’ semakin tinggi. Kami pikir, waktu itu, tak lengkap masa SMA jika tak pernah mendaki gunung.

Baca selebihnya »