MENGIKIS LAUTAN

Bahtera melayar mengikis lautan,
merinai melambai menuju kejauhan.
Punggungnya berat memikul pengharapan,
Serentak sukma yang butuh pelarian.

Riuh. “Selamat tinggal,” ujar kapal kepada dermaga.
Riak air adalah tanda upacara perpisahan,
Sebagaimana insan dengan tangisan-tangisan.
Sunyi. “Lekas kembali,” jawab dermaga dengan tegar. Terbiasa batinnya dihajar ombak begitu seringnya.

Bahtera teguh melaju menuju temu.
Ke mana pergi pun tak seorangpun tahu.
Entah menuju pelabuhan baru,
Atau kembali dan menyeka rindu-rindu.

Juli 2019

Iklan

SENDIRIAN

Bagaimana dengan mereka yang tak bosan-bosannya bercengkerama dengan hampa,
Ke selatan-utara, perihal apa saja yang melintas di pikirannya.
Orang-orang menganggap dia tak waras, sakit jiwa
Hanya karena ia tak memiliki kawan bicara.

Ketahuilah sejatinya, dia sehormat-hormatnya manusia, menggunakan fungsi otaknya
Sadar bahwa nasibnya bak debu di jalan, terombang-ambing dibawa angin malam.
Hanya saja, seribu sayang, ia berjalan sendirian
Merintih lirih berharap uluran tangan, atau sepatah dua patah kata yang menghangatkan
Lebih-lebih yang benar hadir dan sudi mendengarkan.

Pujangga bilang sepi adalah anugerah yang niscaya, sendiri adalah nikmat yang tiada tara
Omong kosong, kubilang.
Mawar tak akan mampu mekar sendirian, serigala akan sukar menerkam mangsa tanpa adanya kawan.
Sama halnya dengan manusia, bukan?
Tanpa teman dan orang yang mendengarkan, mereka hanya akan membusuk perlahan.

Juni 2019

Satu Mendamba Kelana, Satu Mendamba Pulang

“… Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang. …”

(Imam Syafii)

Lho, nggak pernah merantau kok bikin tulisan tentang merantau?”

Hehehe, sebentar. Tulisan ini berangkat dari celetukan seorang kawan di kampus (yang memang merantau), seperti ini: “Nggak bosan apa, 19 tahun hidup di Malang?”

Seingat saya, saya hanya menanggapi dengan senyum. Toh memang begitu kenyataannya. Namun setelah dipikir-pikir, dari sini dapat ditarik cerita yang cukup panjang.

Baca selebihnya »

TUA DI JALAN

Tua di jalan,
tua di jalan.

Tumpah ruah sinar mentari perlahan,
gandeng tarian debu jalanan.
Pagi hari penuh riuh rendah pejalan
Berlagak memeperjuangkan pengetahuan, berlagak mencari penghidupan

Dilibas saja cinta akan kebebasan
Menyeruak dalam hiruk pikuk yang membosankan
Aspal mampat oleh kendaraan, yang bawa serta harapan
Berbiasa oleh telinga tebal kekangan

Mau sampai kapan mati-matian?
Terjerembab dalam tekanan, kesepian dalam keramaian.
Berkawan baik dengan keluhan
Memahirkan bincang kemunafikan

Merugilah, merugilah kalian
Yang hanya merasakan
Menjadi tua di jalan.

Tua di jalan,
tua di jalan.

Rumah dekat jalan, April 2019

(Dimuat di http://lpmperspektif.com/2019/04/27/tua-di-jalan/)

YANG MENGGILAS DAN TERKELUPAS

Waktu menitih palu, menghantam jiwa-jiwa yang ragu
Menuju penyesalan yang baru. Peduli setan, ujar sang waktu
Waktu membunuh tangkai daun yang tertidur pulas
“Biar tak jadi beban rekah bunga!” pekiknya keras
Angkuh lagaknya melangkah menumpas kalbu hingga terengah.
Melekat pada pusingan roda, gilas belulang yang mudah patah

Biarlah saja, kataNya. Biar waktu larut dalam tarinya
Biar leluasa ia terbius dalam fana.
Sebelum pada akhirnya, perlahan kulitnya mengelupas
Membawa serta hewan pandai yang tak ikhlas

Sesampainya di keabadian, waktu tak kunjung siuman
Busuk bersama angan atau lebur bersama harapan
Entahlah, terserah Pemilik Zaman

Maret 2019

(Dimuat di Buletin Redaksi LPM Perspektif Edisi 1 Tahun 2019)

Mengenang Perjalanan #6: Gunung Penanggungan (19-20 Maret 2019), “Menepi Sejenak”

Banyak orang berkata, meskipun kita kembali ke tempat yang sama, cerita yang disuguhkan akan tetap berbeda. Saya sepakat dengan perkataan itu. Ini adalah kedua kalinya saya mendaki Gunung Penanggungan, setelah Desember 2017 silam. Juga merupakan pendakian pertama di tahun 2019, setelah terakhir kali menapaki Semeru di pertengahan 2018. Singkatnya, sudah cukup lama saya rindu naik gunung.

Baca selebihnya »

RUMAH

Kata demi kata tanpa suara,
Terbaca. Memaksa bibir merekahkan senyumnya.
Dari dia yang selalu ada,
Bahagia yang benar kumaknai hadirnya.

Acap kali dia lepaskanku dari gundah,
Berderap meredam resah.
Kadang kalut buatnya lelah,
Tapi dengarnya selalu singgah.

Menyisakanku dengan tanya,
Puan, kau kah rumah?

Batu, Februari 2019

Chairil Anwar dan Soe Hok Gie: Legenda-legenda itu Mati Muda

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

-Soe Hok Gie-

Bagi para penggiat literasi, kedua nama di atas tentu tidak asing didengar. Chairil Anwar, “Si Binatang Jalang” pelopor Angkatan ’45 yang termasyhur karena karya dan pribadinya yang ‘aneh’, kontroversial, namun cukup atraktif untuk dikenang dunia. Lain halnya dengan Soe Hok Gie, pemuda mungil keturunan Tionghoa yang menginspirasi sekaligus menyentil banyak orang. Ia seorang pentolan aktivis mahasiswa, cendekiawan, dan pecinta alam yang namanya abadi dalam pergerakan mahasiswa, maupun di kalangan mereka yang gemar keluar masuk hutan belantara.

Baca selebihnya »

MELAMPAS IKHLAS

Dengung. Lara mengaung.
Teriakkan perih, hadirkan rintih
Dengan renung mengundang kabung
Hanya letih, lupa akan kasih.

Bius engkau yang hampa merangkak!
Sepi menjerat bahkan buat sekarat

Mentak sebab khianat. Atau yang lenyap.
Hadirkan luka yang, tak jua berderap.

Siumanlah, sobat
Rongga tak ada lengan untuk bersulam
Kau punya cinta untuk mengelat,
Tinggal terang lantahkan kelam.

Seperti besi, jiwa juga kudu ditempa
Seperti lidah, ikhlas juga harus dilampas

5 Januari 2019