RINDU TUHAN

Selamat pagi, bisa bicara dengan insan?

Mohon maaf, panggilan Anda sedang dialihkan.

Februari 2020

CELOTEH HERAN

Hijau rumput pulau seberang menyolok pelupuk mata

Tersorot lari semut kecil di antaranya

Gajah berguling di rumput kering halaman rumah tapi tampaknya kurang digdaya

Atau empunya rumah rabun dekat akibat gemerlap layar kaca

 

Satu hari 24 jam masih kurang

Stok beras terpantau cukup tapi tidak dengan jam tidur, kata seorang pegawai kantor metropolitan

Bos besar ibukota tidur cukup dengan beras di brankas tapi stok tertawa tidak ada

Petani desa tertawa-tawa merawat beras layaknya anak tapi tiap malam tidur tanpa alas

Penyair di hadapan kertas termangu bingung mana yang lebih bahagia

 

Orang tua nelangsa dalam tangisnya

Semasa kecil diseret masuk rumah saat main lumpur dengan anak tetangga padahal sudah senja

Kini harus menyeret buah hatinya keluar rumah karena terus berkutat menyimak perseteruan bodoh selebriti tidak tahan lama di telepon genggam

Tapi tetangga sebelah rumah sedang berlibur

Tetangga lainnya malah kelimpungan mengingat nama sang orang tua

Sibuk sih, kata wanita paruh baya yang jadi penyambung lidah warga

 

Warung kopi malam ramai oleh mahasiswa

Cangkir-cangkir di atas meja menampung keluhan para pencari ijazah

Berpikir ilmiah membuat lelah, cari uang mungkin lebih mudah

Sementara pengamen muda yang baru lewat pernah bermimpi kuliah

 

Hei, pengikut akunmu sedikit ya?

Bukan aku yang mencipta angka-angka tapi katanya makin banyak makin bernilai seperti ganja

Sejak kapan jumlah suka terhitung timbangan masuk surga

Silakan merapikan feeds Instagram sementara aku menyelaraskan logika

 

Bahagia itu sederhana?

Mungkin seperti teka teki silang yang bergantung volume otak pengisinya

Mobil-mobilan hadiah dari bapak bisa jadi suntikan senyuman seorang bocah sampai ia menua

Tapi mengapa kolektor mobil mewah meregang nyawa akibat overdosis narkoba?

 

Jari-jari memilin tanda tanya

Bukan soal jasad yang beruntung bisa digerakkan nyawa

Tidak ada garansi untuk kewarasan jiwa

Jadi apa kamu sudah membawa bekal ceria?

 

Februari 2020

KETAKUTAN-KETAKUTAN

Di bawah kabut risau berderai

Di tengah badai maut melambai

Harkat semesta mencipta histeria

 

Dalam gempita ngeri sebatang kara

Kesendirian dianggap akhir dunia

Sorai menyungkupi harmoni sunyi

 

Rumah bumi tambah bising hari ke hari

Penghuni birahi mempersolek diri

Baru lagi, baru lagi, baru lagi

Yang lemah setengah mati, yang kuat kencang berlari

 

Takut mati

Takut sendiri

Takut tertinggal

 

Silakan pakai hati

 

Januari 2020

Menelisik Imajinasi “Pangeran Kecil” dari Kokpit Antoine de Saint-Exupéry

“Hanya dengan hati orang bisa melihat dengan jelas. Yang penting adalah apa yang tidak terlihat oleh mata.” –Pangeran Kecil, Antoine de Saint-Exupery

Kutipan tersebut rasa-rasanya selaras dengan pengertian-pengertian yang dapat diambil dari berbagai tulisan Antoine de Saint-Exupéry. Esensi dari karya-karyanya banyak menunjukkan khazanah imajinasi yang berasal dari sudut pandang yang unik. Jam terbangnya—secara harfiah—dapat dikatakan sebagai faktor utama yang menjadi akar ide dan inspirasi tulisan-tulisannya.Baca selebihnya »

PERJALANAN SAYANG, PERJALANAN MALANG

Perjalanan sayang.
Hulu pelarian mengenyahkan beban. Bersilih menjadi hilir angan.
Tumbuh atas gencarnya harapan. Menanti diraih bak buah impian di pucuk pepohonan.

Perjalanan sayang.
Merayu pejalan yang terpaut gairah petualangan. Obat bius penawar racun keseharian.
Penjaja angin segar kebebasan. Lumbung pengertian kehidupan.

Perjalanan sayang.
Sebuah romantika penguji keyakinan. Saksi bisu keteguhan hati insan.
Kawan pemberi makna pulang kembali ke pelukan.

Perjalanan malang.
Tak sengaja menjanjikan keberadaan. Tak bermaksud menjelma pemuas hasrat pengakuan.
Hanya ditipu limpahan bajingan haus yang buta aturan

Januari 2020

PAGI DI HALAMAN RUMAH

“selamat pagi, Bunda, aku mulai berjalan hari ini.
kutinggalkan kamar kecilku yang tak pernah rapi.
tak perlu lagi engkau lelah berteriak memanggil namaku tiap pagi,
sebab kali ini aku telah terjaga dan siap untuk pergi.”

“selamat pagi, Ayah, aku berangkat mencari jati diri hari ini.
engkau pernah bercerita soal tempaan kehidupan, dan itulah yang akan aku jalani.”

“hati-hati, Nak! jangan letih berusaha dan berserah diri.
doaku untukmu sejak berangkat hingga kembali.”
berat hati. air mata bunda dengan payah merelakanku pergi.

“hati-hati! jaga diri.”
lugas dan sudi. peluk ayah menguatkanku bertubi-tubi.

kusimpan baik-baik kata keduanya di dalam hati
turut kubawa dalam kendaraan yang mengantarkanku menuju mimpi-mimpi

Juni 2019

DAPATKAH ENGKAU MENGERTI?

“Begitulah ceritaku, dapatkah engkau mengerti?”
Tak ada jawaban. Sang penanya memlih tetap bercerita dengan hati-hati.
Suaranya lirih, memuntahkan keresahan dalam sepi
Perbincangan searah saja sedari tadi. Ia sejenak berhenti.

Dirogoh dadanya, dikeluarkannya sebongkah hati. Penuh luka-luka dan duri.
Ia bercerita lagi,
Tak terasa air matanya mengalir di pipi.
Disekanya tangis itu, lalu meneruskan cerita kembali.

Sampai ia bertanya lagi, “Dapatkah engkau mengerti?”
Masih tak ada jawaban lagi. Sunyi.
Nyatanya sedari tadi,
Ia hanya berbincang dengan diri sendiri

Juni 2019

LEPAS BEBAN

Sepulang kerja. Klakson kanan-kiri melolong berbalasan
Pening di kening meronta-ronta
Barang sejenak, beban harus dihempaskan
Giliran batin lampiaskan cerita

Sigaret di tangan kiri, secangkir kopi di tangan kanan
Sahabat lama di depan pandangan
Celoteh mengalir deras. Tak beraturan
Menertawakan keniscayaan, membual keduniawian

Kami bilang ini menjaga kewarasan!
Saling bercermin, menghayati yang fana
Bukan bersolek, mempertebal kemunafikan.

Riuh rendah kota masih menjerit,
Merajut beban yang amat menghimpit.
Sementara kami di sini, sejenak melepas beban.
Sigaret, kopi, dan perbincangan. Oh nikmat Tuhan!

Juni 2019

PERIHAL MAKNA

banyak orang di luar sana bertanya-tanya, “apa guna hidup dan dunia seisinya?”
apa guna bernyawa kalau hanya merasakan lara, apa guna dunia kalau ajal juga yang menjadi ujungnya. rasa-rasanya lebih baik tak dilahirkan saja.

berjebah insan lainnya menerka-nerka, membayangkan soal bagaimana jika. “bagaimana jika aku terlahir kaya, bagaimana jika aku seberuntung dia?”
merasa bahwasanya tak banyak yang dipunya, merasa nasib baik tak pernah berpihak padanya. mereka pun meragukan cara semesta bekerja.

berlimpah pula manusia berduka-duka, “mengapa aku berdiri seorang saja, mengapa aku tak dimengerti orang lainnya?”
mereka berputus asa, sebab tak ada sepasang telinga pun yang mendengarkannya. dunia pun juga dianggap turut mengabaikannya.

banyak lagi yang memperdebatkan makna. tapi barangkali ada satu hal yang terlupa.
sudahkah mereka bertanya kepada Yang Mencipta, sudahkah mencari keberadaan-Nya?

karena mereka tak hadir untuk sekadar menanti noktah. mereka tak hidup hanya karena dahaga akan rupiah. mereka tak diberi akal hanya untuk sendirian bersusah payah.
begitu pula Ia. Dialah sebaik-baiknya tempat bercurah. semewah-mewahnya rumah. seakrab-akrabnya kawan berkeluh kesah.

dan karena alasan-alasan itu pula, mereka berhak mengerti makna hidup dan menyatu dengannya.

November 2019

Tak Ada Kawan, Catatan Harian pun Jadi

“Aku menulis untuk orang-orang yang telah menyentuh hatiku, kehangatan keluarga yang telah menghangatkan hidupku, serta alam sekitar yang menyegarkan perjalanan ini. Tulisanku mencoba menangkap kenangan agar mereka tidak menguap begitu saja. Aku menulis sebelum kenangan jatuh dari ingatan.

-Iwan Setyawan-

Akhir-akhir ini tentu sering kita temui pembahasan perihal kesehatan mental, entah dari suatu kajian akademik, dari review suatu film, maupun dari celoteh tetangga. Bagi sebagian orang, kesehatan mental bukan hal yang nyata, mungkin karena keberadaannya yang tak terlihat oleh mata. Bagi sebagian lain yang lebih memiliki daya perasa, tentu kesehatan mental dapat dikatakan sebagai hal krusial, tak terpisahkan dari aktivitas jasmani manusia.Baca selebihnya »

MASUK KUPING KIRI MENYELINAP DI OTAK DAN TAK KELUAR KUPING KANAN

goblok arek iki.
kamu ngerti atau engga, sih?
mati saja sana
halah, aku dulu lebih parah
tulisanmu jelek
kamu kok hitam sih
dasar aneh
cok, lemah!
nggak punya teman ya?
orang lain bisa, kamu gini aja lho nggak bisa
itu alasan seorang pengecut.
kamu nggak tau apaapa
wajahmu tua banget
untuk orang sepertimu, nggak mungkin.
baju kok itu-itu doang
garing banget lu
kamu punya apa emangnya?
tinggi banget mimpimu
gitu aja dipikirin.

Ada yang cukup kuat meski tetap terpikirkan barang sekelebat.
Ada yang sampai susah payah untuk sekadar beristirahat.
Ada yang sudah membuat pergelangan tangannya tersayat.

bodo amat.

Oktober 2019

IGAU PENDOSA TUA

ah ya. dahulu kita hanya sekumpulan anak berusia belasan tahun yang berangan-angan tentang dunia.

dahulu kita punya mimpi-mimpi besar juga. lucunya kita juga percaya untuk bisa meraihnya.

setelah berapa waktu berjalan bersama, engkau mulai menyadari congkaknya dunia. aku juga. lantas sepertinya kita menyerah.

remaja tanggung seperti kita akhirnya mencari pelipur lara. sigaret. bir. wanita. menjadikan itu hiburan layaknya yang dilakukan orang dewasa. kita pun perlahan juga menuju ke sana.

barangkali kerasnya dunia bisa kita atasi dengan nikmat keduniawian itu sendiri. persetan dengan hakikat hidup yang tak pernah kita temui. beranjak tua seolah tak ada arti.

oh ya. kini aku berada entah di mana, berdiam membusuk layaknya manusia hina. apa kabar kalian di sana? rupa-rupanya inilah perwujudan angan kita perihal dunia, tempat segala harap dan makna dikubur bersama.

Oktober 2019

(Dimuat di lpmperspektif.com)

DI UJUNG MALAM

selamat malam sayang, apa kabar di sana?
di ujung malam rindu mendekap,
bergerak senyap dalam gelap
tak peduli tentang jarak yang terentang di antara.

sebingkai kisah selalu kau kirimkan dari ujung sana. entah tawa bahagia
entah air mata keruh atau keluh kesah sederhana. tak ada masalah.
bahagiaku cukup sederhana, mendengarkanmu yang masih sudi bercerita
semoga kabar-kabarku pun membuat senyummu merekah.

di ujung malam ini kau bertanya soal rindu.
“Masihkah ada di sana?” tanyamu. tampaknya rasa cemasmu memburu.
kau juga menanyakan berapa waktu lagi perjumpaan itu,
bilamana dua rindu ini dapat bersua dalam temu.

jangan terlalu ragu, manisku.
untaian rindu ini akan kuurai atas izin waktu.

Juni 2019