TENTANG ASA YANG BERSEMAYAM DALAM KEABADIAN

untuk September

Manakala bungah, jangan buang waktu percuma

Jauh di sanalah keniscayaan

Tentang desir angin dalam sesak

Dan pijar saat pikir membeku

Manakala lelah, pejamkanlah mata sebentar

Tak selamanya raga harus terjaga

Sebab terang pun tak menanti petang

Dan tanah akan tetap bertemu hujan

Manakala gundah, bongkar kembali persemayaman itu saja

Di dalamnya ada rumah

Meski sekadar untuk singgah

Tapi tak secuil pun berubah

September 2020

DI BALIK DAUN PINTU

di balik daun pintu yang menguncup, terkulai isi kepala yang meletup, seiring harapan hidup yang mulai redup. pukulan badai tak kunjung surut. denting detik merangkai kemelut, tak membiarkan damai menyambut.

di atas pembaringan yang tak nyaman, tergolek raga yang kesakitan, entah berapa waktu lagi mampu bertahan. usai sepanjang hari dipaksa bersembunyi, yang terasa hanya perih; pun senyuman beralih menjadi rintih.

di dalam hati yang lelah, terselip doa berserah, bahkan mungkin menyerah. semoga pagi esok tak berkabut, dan penderitaan ini dicabut—atau hidupku saja yang direnggut. ia tak lagi meredam lara; ia berteriak tanpa suara. pun dunia di luar berdesing, tak ada manusia tahu ia bising. tapi, Tuhan lebih dekat dari denyut jantung. istirahatlah, hari esok harus disambung.

di luar pintu yang terbuka, berputar lagi roda hidup yang melaju sekenanya. berdiri pula tubuh yang sebelumnya lemah, dan gurat tawa yang susah payah. kaki harus terus menderap, dan derita tak harus diratap.

sebab, beberapa orang mengaduh saat terantuk batu. beberapa lainnya tergelak kala tertusuk sembilu

Agustus 2020

Rambut Gondrong, Lonnie Walker IV, dan Tali di Leher

“Potong rambut, dong!”

Kalimat di atas, ataupun kalimat-kalimat lain yang bernada sejenis, terdengar akrab di telinga saya selama kurang lebih dua tahun terakhir. Datangnya bisa dari mana saja: keluarga, saudara, teman; entah yang setiap hari bertemu maupun yang tak pernah bersua. Beberapa mengiringinya dengan candaan, beberapa lainnya sekaligus melakukan ‘penilaian’. Tidak, saya tidak mengambil hati. Itu hanyalah hal yang memang dilakukan orang-orang.

Baca selebihnya »

JEDA DAN DERITA

siapa pula yang rela ada jeda di antara ribuan kisah kasih rindu menderu antara manusia satu dengan manusia lainnya.

siapa pula yang lega ada sekat di tengah lorong napas dan bau tanah sehabis hujan yang menghalangi jiwa raga untuk menikmati udara.

siapa pula yang gembira tatkala tawa-tawa bahagia lenyap begitu saja dilahap mala yang tak pernah berkabar perkara waktu kedatangannya.

siapa pula yang kuasa mengulur garis batas sabar tanpa mengerti adanya letak pintu keluar dari sebuah derita

 

Agustus 2020

SUATU KETIKA

bagaimana jika suatu ketika,

edelweis tak lagi mekar di ketinggian

dan gunung-gunung rata dengan tanah

bagaimana para penakluk tebing-tebing itu

akan menemukan keabadian?

 

bagaimana jika suatu ketika,

raga memaku diamnya

tinggal lara yang membalut jiwa

akankah bara harap kehidupan itu

tetap nyala merah terbakar?

 

bagaimana jika suatu ketika,

buku-buku tak lagi bercerita

kata-kata hilang maknanya

akankah yang pernah terjadi itu

tetap diam pada masanya?

 

bagaimana jika suatu ketika,

engkau tak lagi terjaga

dan mimpi buruk meledak

di tengah malam ku terlelap

akankah aku baik-baik saja?

 

Juli 2020

Terminologi Uang Rokok dan Manajemen Keuangan (Paling) Sederhana

Ini duit sisa seratus ribu. 20 ribu buat rokok, 30 ribu buat ngopi, sisanya buat makan.”

Jika anda punya teman yang sering bercerita hal kecil seperti berapa jumlah uang di dompetnya, dan kebetulan teman tersebut adalah seorang perokok, maka mungkin anda akan menemukan celetukan seperti itu. Detail pengeluarannya pastilah berbeda, namun saya rasa kata ‘rokok’ bisa erat dengan hal keuangan seseorang. Saya membicarakan ‘uang rokok’ tidak dalam arti “uang yang diberikan sebagai persen, hadiah, balas jasa, dsb” (terima kasih wiktionary), tetapi sebagai bagian dari pengeluaran pribadi seseorang itu.

Baca selebihnya »

BATAS WARAS BEBAS

merangkak naik di punggung gunung

memutar otak di hadapan aksara

melarikan paru-paru

mengejawantah ikan lautan dalam

menggerayangi gitar tua

melukis ulang lukisan alam raya

melampas otak tumpul

membunuh pembunuh

merasakan irama raga

mencari jati diri.

 

jikalau semua perihal menjadi bebas

rasanya kita sama-sama tak waras.

hanya soal apa dan siapa yang mengerti batas

 

Juni 2020

SUARA SUMBANG DI BAWAH JEMBATAN LAYANG

di bawah gelegar jembatan layang,

berkumpul raga lelah dari berbagai petak.

sementara magrib tengah mengembang,

penumpang angkot lambat-lambat buka mata yang berkerak.

 

dan Terminal Arjosari masih jauh dari pandangan.

 

sedikit lagi, pikir anak sekolah yang sampai suntuk melintas jalanan Malang.

usai juga hari ini, kata buruh pabrik rokok kepada belanjaan berisi bahan masak.

namun kursi angkutan kota masih lengang.

jika sudah penuh sesak, gerigi mesin baru mau bergerak.

 

dan di luar terdengar suara konser kecil-kecilan.

 

sekelompok remaja lusuh senandungkan nyanyian bimbang.

liriknya muntahkan pemikiran yang muak.

seorang mainkan ukulele dengan lantang,

beberapa lainnya menjemput uluran perak.

 

dan Malang tak bosan gaungkan kehidupan.

 

Juni 2020

RINTIH LIRIH

jalanan sepi. kota bergeliat dalam lara, denyutnya terdengar lirih.

seorang anak kecil berjalan menghampiri ibunya. “habiskan, sini,” ujar sang ibunda. si kecil lahap sekali, sementara emak gelisah makan apa esok hari.

sang ibu tiap harinya memilah sampah,
bila beruntung pejalan kaki memberi sedikit rupiah.
meski tak pernah mudah, ia tak pernah sudi mati menyerah.

tapi berapa waktu ini susah.
jangankan menerima pemberian rupiah, sampah pun ikut bersembunyi dalam rumah. kabarnya seluruh kota tengah diserang wabah.
tak terlihat, tak bersuara, namun membuat siapapun resah.

si kecil kembali menghampiri.
“ibu, makan apa lagi esok hari?”

dalam dekap sang bunda, bibirnya dituntun berdoa.
“Ya Tuhan, percepatlah kesembuhan dunia.”

jalanan masih sepi. kota tetap bergeliat dalam lara, denyutnya terdengar lirih.

April 2020

(Dimuat di Buletin Prasasti LPM Perspektif Edisi 26)

PETAKA

Tatkala mala dipandang sebelah mata, maka binasalah kehidupan satu bangsa.
Tatkala nyawa hanya dirupakan angka, maka telah matilah nurani manusia.

Tapi aku tak ingin dikubur sia-sia, kawanku.
Pantang tak acuh menilik gugurnya pahlawanku,
Lebih lagi bersikeras merancap hasratku sendiri.

Tatkala penguasa tak tahu hendak apa, maka kitalah yang wajib menaja.
Tatkala sesama kita merana, maka saatnya berkukuh bersama.

Tapi aku tak ingin berdiri sendiri, temanku.
Setelah dapat berdiam dalam derana,
Aku dan dirimu pasti mampu untuk melaju.

Kemarilah, kawanku.
Mari bertahan sampai prahara ini berlalu.
Hati akan hancur tanpa dirimu,
Begitu pula dunia tanpa pedulimu.

April 2020

RUMAH III

tibalah dua deraian itu dalam pangkal, menjadi awal kisah kehilangan yang kekal.

kita merajut paham, lantas mengarungi jeram;

bak kapal terombang-ambing gelombang, kita akhirnya menemukan sandaran.

 

hari demi hari berguguran. kita terbagi lagi dalam dua deraian,

kini dengan rasa bertautan. kala takdir mulai jauh bergulir, tanganku berserah melepas genggaman.

aku melenggang tak tahu arah, kau terperangah dalam amarah.

 

puan, aku tak pernah paham. ragaku berpetualang;

hatiku tak tenang, pikirku jauh melayang.

ratusan beranda telah kusinggahi, ribuan lorong habis kulalui,

tapi gemerlap rumah ada pada genggamanmu

 

Mei 2020

Tentang 2020 yang Belum Setengah Jalan

“Sebagaimana janji Tuhan, bersama kesulitan pasti ada kemudahan.”

Kalimat itu yang akhir-akhir ini terpikirkan oleh saya, entah di tengah-tengah kuliah daring, saat membaca berita di koran, ataupun ketika melamun menjelang tidur. Bukannya sok religius, tetapi memang kita tengah berada di saat-saat yang berat. Aktivitas tidak normal, ruang gerak terbatas, uang saku juga terhambat—hehehe. Keadaan seperti ini menempatkan semua orang kepada kesulitan. Alangkah kurang ajarnya apabila ada pihak yang memanfaatkan situasi ini, alias mencari keuntungan pribadi. Tapi saya tidak akan membicarakan soal bangsat-bangsat itu, tindakan mereka sudah tercela tanpa perlu dibahas ulang.

Baca selebihnya »