Yang Berubah dan Tak Berubah (Gunung Arjuno, Jawa Timur)

Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa satu-satunya hal yang tidak berubah dari dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Perubahan pasti terjadi pada apa saja yang dianggap ada, katanya, seperti ruang, manusia, dan lain sebagainya. Pada mulanya, saya meragukan itu semua karena meyakini bahwa diri saya tak akan banyak berubah. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa perubahan-perubahan itu tak terelakkan, membentuk kenyataan yang disebut masa kini.

Baca selebihnya »

Rumah, Bagian Terakhir

salam kenal, terdengar suara itu melengking
tak ruah, namun mengalirkan darah. dan
ia tak punya telinga, juga jantung—sampai saat itu,
seakan degup demi degup dibunyikannya sendiri:
suara itu berdenging untukku, barangkali.

bebal adalah tumpuan hidup, beberapa kepala
tetap berjalan tanpa punya mata,
beberapa lainnya meletus tanpa sadar sebabnya.
mungkin hari ini akan sama dengan esok hari.
kelak, ia terperosok dalam-dalam, susah
payah menarik diri dari liang sarat duri tajam.

sakit, terdengar suara lagi, kini
setelah ia punya kaki-kaki. ia berjalan
ke sana kemari, di antara yang pasti dan
tak pasti. sekali ia datang, sekali ia pergi,
beriring satu hal yang tak akan berganti:
rasa sakit itu sendiri.

yang membentang, jarak, bukankah
seharusnya seperti ini? ia jadi berpikir
punya ruang menata hati, jauh dari duri
tajam yang bakal mencelakakan diri.
mahir berjalan, ia coba berlari, sampai
sekali waktu kakinya tersandung lubang
dan tak mampu berdiri lagi.

pada menyerah ia menyerahkan diri.
sesekali ia mendongak, dan bertanya-tanya,
tanpa berteriak: kesedihan, mengapa
mati menjadi rumah segala sesuatu
yang tak punya daya?

Juni 2022

Mengolok-olok dan Mendambakan Jakarta

Lahir, besar, dan masih tinggal di kota kecil hingga detik ini, membuat kami punya bayangan sendiri tentang kota-kota besar.

Saat tengah cangkruk beberapa malam lalu, sahabat saya, Andry, tiba-tiba berkata ingin segera lulus kuliah dan meninggalkan Malang. Saya tak terkejut karena kami berkali-kali membicarakan hal yang sama. Dalam benak yang gamam, saya juga menyimpan keinginan serupa. Malang, bagi kami yang berusia tanggung saat ini, seakan jadi lagu yang diputar on repeat dan perlahan membuat kami mati kebosanan.

Baca selebihnya »

Lonceng Keberangkatan

Benar katamu, di lorong ini manusia tersengut
melepas apa-apa yang tak bisa dibawa serta
juga mungkin bersilih sekejap mata

Sementara rumahku telah lama berkabung
atas pulangnya kepulanganku kepadanya
Sebagaimana gelebah kini kubebatkan pada
lentik jari perempuan-perempuan, potret-potret
kesenjangan dan gegap mesin kendaraan

Pun kepada diam aku menyambung kewarasan
perihal rupa-rupa yang menenggak pahit
bak minuman keras pelipur sengsara
perihal anjing-anjing tuli yang sengaja
mengencingi telaga tak bertuan

Dan dalam igauku bersarang duri mimpi
yang tersangkut dari naif kemarin hari
bahwa jagat yang terluka sehari-hari
mesti dihiasi rumbai-rumbai pengusir sepi

Namun segera harapku berkemas pergi
sebab gema lonceng pada tiap sudut
sayup-sayup menyambar pusat nadi,
pertanda kereta saling beradu sampai
pada tangis-tangis yang sarat emosi.

April 2022

Hafalan Harapan

harapan ada pada puncak kemelut perang berkepanjangan
harapan ada pada denting sendok menggeliat dalam cangkir
harapan ada pada dinding menjulang kompleks penjara
harapan ada pada hijau rumput kering di kaki gunung
harapan ada pada endus hidung kucing mungil langganan pukul
harapan ada pada tempias gerimis penghujung azan magrib
harapan ada pada rekaman jenuh kamera pengawas
harapan ada pada aroma anyir cencangan daging
harapan ada pada kelakar membakar suara unjuk rasa
harapan ada pada lipatan kelambu apak melawan matahari
harapan ada pada selebaran penghasut keseragaman berpikir
harapan ada pada berisik musik peredam kokok ayam
harapan ada pada lebam biru menghias sudut kosong pelipis
harapan ada pada jejaring otak penampung darah dari jantung
harapan ada pada gemuruh marah banjir tahunan
harapan ada pada basah kain bekas keringat kerja keras
harapan ada pada
harapan ada …
harapan ada pada harapan.

Februari 2022

Nyala

nyala terang, terus benderang
yang telah lalu, sirna sudah
nyala terang, terus menerjang
dan cahaya, semakin terang

Lamunan panjang tiba-tiba membawamu menuju peristiwa tujuh atau delapan tahun lalu, ketika kau masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kau, secara acak, memang sering melempar pikiranmu ke satu titik tertentu di belakang, sampai-sampai tertambat pada celah yang mungkin orang lain hanya melintas di atasnya bak retakan trotoar.

Baca selebihnya »

Melankolia

dalam gemetar aku gentar.
dalam gentar aku pamrih:
mengharap tuai dari benih
yang kusemai seorang diri.

dalam pejam aku bermimpi
tentang riang hari-hari;
semilir angin yang menjamah
mekar bunga di ceruk hati
—sampai aku terjaga dan
kembali menatap hampa.

dalam temu aku mengadu,
senyap. akan indah bilamana
gamang ini enyah berganti
apa saja yang dapat kita
genggam bersama: tangan,
angan, dan kebahagiaan;
menghadapi saban aral yang
terdengar menakutkan.

(dalam lamun aku masih
gemetar, dengan sadar.)

Januari 2022

Ragu

dengar detakmu teredam ragu
menggeret pilu menghunus sembilu
nanar matamu mengutuk waktu
mengelat sesal sejauh kelu

enyahkanlah jerat yang membelenggu
lepaskanlah bimbang rumpang mimpimu
hempaskanlah resah dan rikuhmu
dan biarkan nyala sembuhkan gundahmu

pagi mungkin kelabu
dan nyawa tak melulu berseru
berkawanlah dengan waktu
asal ragu tak menjelma rugimu

November 2021

(Dimuat di lpmperspektif.com)

Ketika Benderang Melangkah Pulang

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Sepenggalan sajak seorang legenda itu selalu menyisakan tanya di kepalaku. Seberapa sederhana kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu itu? Entahlah. Barangkali kata ‘sederhana’ sama fungsinya seperti kertas kado. Entah untuk memperindah, memperjelas, atau menyembunyikan—kita tak pernah mengerti hadiah apa yang benar-benar ada di dalamnya.

Yang jelas, kata-kata yang mungkin sederhana itu, adalah kutipan favorit seseorang yang sederhana pula.

Baca selebihnya »

Hujan dan Kebencian yang Masih Mengalir Deras

Jika terdapat orang di sekitar Anda yang mengaku begitu mencintai hujan, sesekali ajaklah ia berkemah di hutan. Bilang saja untuk bersenang-senang. Nanti, kalau hujan turun, mungkin kita akan mengetahui seberapa teguh perasaannya. Apakah hujan masih menjadi sesuatu yang ia cintai; usai sekujur badannya kuyup, selepas kakinya terpeleset lumpur licin, atau sesudah mengetahui isi ranselnya porak poranda.

Baca selebihnya »

celoteh setengah mati

asap payah berembus dari hidung
pertanda guncangan degup membakar jantung
terpancung pangkal nelangsa tanpa ujung

setengah mati terbirit-birit mendamba damai
dari relung ke relung meniup risau
sementara tenang berkubang di dalam hari

apa yang lebih terang dari hari ini?
apa yang lebih remang dari esok nanti?
tatkala mati tak dimaknai serupa jeruji
mesti yang lalu urung menghantui

September 2021