tanya di setiap pagi

malam berganti pagi, remang bulan digantikan matahari. darah masih mengalir dalam nadi, namun semangat tak berdetak lagi. akankah selamanya begini? akankah semuanya terasa berhenti? kabut selalu menyambut, tapi nyala nyawa telungkup dalam selimut. kepala berputar dalam kemelut, dengan segala risau yang tak kunjung surut. di mana titik terang berada? kapan hadirnya sampai di depan mata? sudah lama jiwa terlena dalam tipu daya, tidur panjang dibuai kenikmatan sementara. sayup terdengar suara pintu diketuk, pada pagi yang tak seharusnya diiringi kantuk. haruskah bangun membukanya? atau cukup dengan menutup telinga?

Juni 2021

RUMAH IV

sudah seratus hari
pijak tanah kami hindari;
menyibak peluang berdiri
sejajar dengan matahari.

nyatanya kami tak
sejengkalpun beranjak
dari mimpi—semerbak
khayal masih terhirup sesak.

kadangkala kami berpikir:
rumah adalah titik nadir,
di mana sunyi beradu getir
dengan nalar yang tersihir.

namun, pada akhirnya,
dari sanalah awal dunia;
tatkala duka dan bahagia
tak jadi hal yang sia-sia.

Mei 2021

PESAN DARI PERPISAHAN PANJANG

dunia adalah lumbung masalah, keluhmu
dan tak semua takdir bersikap ramah.

“yang tenteram hanya genggammu,”
ujarmu tenang alirkan debar.
degup jantungku pernah terpaku
sebagai tempatmu bersandar.

garis hidup tak selalu lurus, kesahmu
dan kita tak pernah tahu arah.

“bagaimana jika semua tak baik-baik saja?”
tanyamu dengungkan gentar.
kecamuk risauku mengemuka
lambat laun jelmakan tegar.

satu-satu  memori melintas, sadarku
dan pedih rindu kembali merekah.

“tetaplah menyemai tenteram,”
pesanmu tancapkan pancang.
dari dingin tempatmu bersemayam
terdengar salam perpisahan panjang

Maret 2021

LAMUNAN KETERASINGAN

Dingin fajar mengurai sunyi
Berlari mengitari jalanan sesak
Di jeram kota bergedung tinggi
Terkurung batin meringkuk terisak

“Apa kabar Bapak di ladang?”
tanya Tuan kepada awan mendung
“Sehatkah Emak sekarang?”
rindunya kian tak terbendung

Kendati rumah mengandung tenang,
Asa terbentang di kota orang
Keterasingan merawi cerita,
Beriring derita dan air mata

“Pak, tawamu kala itu renyah sekali,”
lamun Tuan mengenang perbincangan
“Mak, aku ingin memelukmu sekali lagi,”
bisiknya lirih menafikan kenyataan.

Maret 2021

,

selamat: ialah pupuk
yang dirabuk Abah
dua kali pada denyut
akar Salma Salima.

agaknya pupuk itu mengelat
mujarab, sebab lahirnya
tak hanya selamat;
pun batinnya juga piawai
mengolah hari berat;
dan pikirnya terasah
berderap melesat—
lampaui bilangan
sekat-sekat muslihat.

selamat: ialah sececah
risalah, percik riang
napas panjang
wanita yang
bersahaja.

April 2021

;

betapa buruknya malam meletus di pikiran pandir yang merancap imaji dalam kepala kosongnya. betapa buruknya malam meletus memorakporandakan ingatan lugu dari belantika sekolah rendah yang pandir tak sadar membangun fondasinya menancapkan tiang-tiang penyangganya menata atap di atasnya membangun dinding lengkap dengan pagarnya untuk menjadi tempat teduh dari dunia yang sukar dicerna jalannya dan tiba-tiba rasa terasa terbakar menjelma abu yang sempurna lalu hadir kembali akibat Seseorang memadamkan api dengan dingin air tenang dari belantika yang sama. betapa buruknya.

 

April 2021

Mengenang Perjalanan #11: “Berkawan dengan Hujan” (Gunung Kawi, Jawa Timur)

“Tak akan lari gunung dikejar, hilang kabut tampaklah dia.”

Peribahasa populer ini menjadi kata-kata hiburan bagi saya, dan mungkin kawan-kawan yang lain, ketika mengenang pendakian ke Gunung Kawi kali ini. Berangkat di penghujung Oktober 2020, mengadu peruntungan cuaca di musim hujan, nyatanya kami sama sekali tak beruntung. Hujan menjadi teman setia nyaris sepanjang perjalanan.

Baca selebihnya »

CINTA YANG PAYAH

akulah cinta yang buta muasal,
datangku terseret roda berputar
mencumbu waktu yang melekat pada aspal

akulah cinta, lantang mengetuk pintu alam sadar,
memegang kendali alam mimpi
datang dan pergi kuiringi
hingga yang benar tetap kembali

akulah cinta yang mengajukan tanya,
mengapa?
hadirku merangkai  tiada dan ada
salah dan benar
tidak dan iya

akulah cinta, lugas memisah harap dan nyata,
tak mekar akibat memar
pergiku  larut dalam air tenang,
entah semalam, entah sewindu

akulah cinta yang terikat syarat
membentang dalam sekat-sekat
menguap menghujan sepanjang alir hayat

Februari 2021